Agama Cinta di Bumi

Oleh; Panji Sakti

Singaraja memasuki musim kemarau. Tapi kadang-kadang hujan masih setia mengguyur bumi Panji Sakti ini. Pagi yang indah.  Langit yang cerah. Orang-orang menatap hari dengan penuh gairah. Bau dupa harum memberikan sepirit mistik dipagi hari. Sebuah canang berisi bunga dan sebatang dupa, menghiasi depan gerbang-gerbang rumah. Mentari pagi mengintip malu dibalik awan yang kelabu. Namun sinarnya tetap semangat menembus awan yang kelabu. Suara lonceng penjual jamu tradisional ikut meramaikan pagi yang penuh barokah ini.

Semua bergairah menatap hari yang baru. Begitu juga Ja’far. Ia melangkah memasuki gerbang timur Universitas Pendidikan Ganesha dengan semangat membuncah. Fakultas Ekonomi di Kampus atas demikian ia cintai. Mata kuliah Ekonomi Moneter dan Akuntansi biaya untuk hari ini. Ia begitu semangat disemester empat ini.

Diberi nama Ja’far karena ayahnya berharap agar ia bisa seperti sahabat Nabi yang agung yaitu Ja’far bin Abi Thalib yang gugur pada saat Perang Mu’tah, ketika kaum Muslim dengan 3000 pasukan melawan tentara Romawi Byzantium dengan 200.000 pasukan. Jumlah yang tidak seimbang. Ja’far bin Abi Thalib yang menggantikan Zaid bin Haritsah sebagai panglima yang syahid terlebih dahulu, sesuai dengan perintah Rasulullah SAW. Ja’far pun menjadi panglima perang. Betapa tersiksanya Ja’far kala itu. ketika ia menggantikan Zaid memegang panji Islam dengan tangan kanannya, tentara Romawi menebas tangannya hingga putus. Jatuhlah panji itu ke tanah. Lalu ia mengambil panji itu dan menegakkannya dengan tangan kiri, lagi-lagi tangannya tertebas pedang tentara Romawi dan putuslah tangan kirinya. Ia tetap tidak menyerah. Kali ini ia kibarkan panji itu dengan menggigitnya, hingga Ja’far pun gugur dan syahid. Ja’far bin Abi Thalib ra. gugur dengan tubuh tercabik-cabik pedang dan tombak, tak kurang dari 99 luka sayatan dan tusukan menghiasi tubuhnya yang mulia.

Mata Ja’far berkaca-kaca tiap kali ia mengingat kisah itu. kisah itu telah menjadi semangatnya dan menjadi cambuk dalam menempuh pendidikan di tanah rantauan ini. tiap kali ia ingin mengeluh dengan semua rutinitas kampus dan organisasi, ia akan mengingat betapa menyakitkannya perjuangan para mujahid-mujahid Islam meneggakkan panji Islam. Muliakanlah orang-orang yang menegakkan nama-Mu, ya Allah. Doanya dalam hati.

* * *

Pukul  sepuluh pagi menjelang siang ia pulang dari kampus dan nanti pukul setengah lima sore balik lagi ke kampus untuk mata kuliah yang kedua. Jalan kaki. Memang, jarak antara kampus dan kontrakannya tidak terlalu jauh. Sebagai mahasiswa perantauan, ia cukup bersyukur mendapatkan kontrakan yang dekat dengan kampus dan satu kontrakan dengan para mahasiswa yang satu daerah dengannya. Ia dan kawan-kawannya mengkontrak sebuah rumah dengan lima kamar di kawasan kos mahasiswa di Jalan Sahadewa No. 6 B belakang gedung Analis Kimia Universitas Pendidikan Ganesha. Tuan rumahnya lumayan baik. Tapi kadang-kadang juga agak marah karena keadaan rumahnya kotor. Tapi itu dapat diatasi dengan baik oleh Ja’far dan kawan-kawan.

Ia cukup bahagia berada di kontrakan itu. Tetangga di kawasan kontrakannya juga ramah-ramah. Walaupun beda agama, tapi kerukunan tetap terjaga dengan baik. Kadang, ibu warung yang setiap hari menjadi langganan Ja’far dkk, memberikan buah-buahan dan jajanan bekas sesaji ketika ada upacara umat Hindu, seperti Hari Raya Galungan, Kuningan dan hari-hari suci lainnya. Ja’far tak ragu menerima sesembahan itu. Karena Ja’far mempunyai pemikiran terbuka tentang toleransi. Menyenangkan tetangga adalah salah satu sunnah Nabi. Itu yang ia pikirkan. Islam sebagai agama yang diridhoi Allah telah memberikan konsep tentang kehidupan manusia hidup di muka bumi ini hingga pada masalah muamalah. Dan salah satunya adalah menyenangkan hati tetangga.

Ashar tiba. Terasa teduh suara muadzin melantunkan panggilan Tuhan. Ia bangkit dan melangkah mengambil air wudhu. Lalu ia sholat ashar dengan khusyuk.

Pukul empat sore ia harus kembali ke kampus. Karena perkuliahan akan dimulai pukul setengah lima sore, jadi ia harus berangkat setengah jam sebelum masuk kelas. Ketika ia melangkah belum begitu jauh dari gerbang kontrakannya, ia bertemu dengan salah satu tetangga sebelah kiri kontrakannya. Dengan ramah ia tersenyum dan berucap, Selamat sore, Pak. Bapak separuh baya itu menatapnya tajam dengan muka yang tidak mengenakkan. Seperti orang memendam dendam. Tapi dengan segala positive thingking, Ja’far tetap tersenyum walaupun ia tahu tetangga yang satu ini cukup membuat rasa kesal dihati.

Seperti suatu malam. Ja’far dkk sedang asyik ngobrol di teras kontrakan, tiba-tiba butiran pasir bercampur tanah menghujam kontrakannya. Sontak Ja’far dkk kaget dibuatnya. Butiran pasir itu cukup banyak. Belum selesai rasa kagetnya, sebuah batu bata terbang menghantam jendela kamar Ja’far yang semula terbuka seketika menutup.

“Dasar orang Islam tidak tahu diri. Syetan kalian. Bangsat kalian. Dasar agama teroris!” kata seseorang dibalik tembok pembatas kontrakan menyumpah serapahi Ja’far dkk.

Ja’far sudah tahu siapa yang melakukan perbuatan itu. Ya, bapak separuh baya yang ketus dan dingin itu. Beberapa tetangga sekitar kontrakan memang baik, kecuali satu orang ini. Tanpa sebab yang pasti dan tanpa alasan yang kongrit, bapak separuh baya itu sering memarahi Ja’far dkk.

Ja’far terus berjalan ke kampus tanpa berpikiran negatif tentang bapak separuh baya itu. suatu saat pasti ia akan menemukan cara dan mencari tahu kenapa bapak itu begitu membencinya dan kawan-kawannya. Ia akan menunjukkan bahwa agamanya telah mengajarkan tentang indahnya bertetangga.

* * *

Di malam selanjutnya.

“Ini sudah sangat keterlaluan, Far,” ucap Abu dengan kesal.

“Sabar, Bu!” jawab Ja’far dengan tersenyum.

“Kita harus lapor Pak RT atas ulah bapak ini. Aku tidak tenang jadinya kontrak di rumah ini.”

“Ia, aku setuju dengan Abu. Bagaimana aku bisa fokus belajar kalau setiap malam kita diteror dengan lemparan pasir dan batu. Tampaknya tetangga yang lain juga tidak berani membela kita,” kata Arif setuju dengan pendapat Abu.

“Apa kita balas lempar aja?” celetuk Agus dari dalam kamar.

Semua saling pandang. Hening sesaat.

“Pemikiran yang anarkis. Agama kita tidak mengajarkan tentang balas dendam, Gus. Aku mengira, bapak ini benci sama kita karena kita Muslim. Aku sering melihat bapak ini ramah terhadap tetangga-tetangga kita yang lain. Tapi sangat dingin dengan kita. Dan aku yakin, kalau kita pakai caramu itu maka bapak itu akan semakin benci dengan kita. Api harus dilawan dengan air. Jangan api dilawan dengan api, nanti apinya malah semakin besar,” kata Ja’far memecah keheningan.

Semua diam membisu. Kata-kata Ja’far seperti perintah panglima perang kepada pasukannya. Atau seperti petuah guru terhadap muridnya. Namanya memang Ja’far, tapi bagi kawan-kawannya ia adalah Badiuzzaman Said Nursi. Pengobar semangat rakyat Turki dengan karyanya Risalah Nur untuk melawan rezim otoriter Mustafa Kemal Attaturk yang berkuasa dan meruntuhkan kekhilafahan Turki Utsmani pada 3 Mei 1924.

Sejak dikungkung kekuasaan tiran Mustafa Kemal Attaturk yang ekstrim-sekuler, Turki mengalami masa-masa gelap gulita yang pekat. Simbol-simbol agama dilarang. Masjid-masjid banyak yang ditutup. Kantor Syaikhul Islam di Istanbul dijadikan gedung dansa. Adzan memakai bahasa Arab dilarang. Zawiyah-zawiyah sufi ditutup. Madrasah-madrasah dilarang mengajarkan Al-Qur’an. Huruf dan angka Hijaiyyah dilarang digunakan diganti dengan latin. Mustafa Kemal Attaturk ingin mengahapus semua jejak Islam dengan harapan dapat diterima oleh bangsa-bangsa Eropa.

Malam itu, kawasan Singaraja sempat kembali diguyur hujan, walau sebenarnya sudah masuk musim kemarau. Pukul sepuluh malam, hujan sudah reda. Jalan-jalan tampak basah. Udara dingin berhembus dari selatan. Singaraja sangat legang. Sebagian penduduknya telah lelap dalam kamar-kamarnya, namun Ja’far masih bekerja merampungkan tugas kuliahnya. Ia menargetkan malam itu harus selesai. Sebenarnya ia masih memiliki dua minggu untuk menyelesaikan tugas makalahnya. Tetapi ia ingin selesai lebih cepat tanpa mengurangi bobot kualitasnya.

Agus melangkah menghampirinya.

“Far, sudah hampir jam setengah satu. Sebaiknya kau istirahat, jaga kesehatan.”

Ja’far menghela napas. Ia mengalihkan perhatiannya dari layar laptop ke wajah Agus yang berdiri di tengah pintu kamarnya. Ja’far memutar posisi duduknya dan mengisyaratkan Agus agar duduk di ranjang tidurnya.

“Agus, di Bali, termasuk di Singaraja ini, kita adalah minoritas. Walaupun undang-undang negara tidak membedakan ras dan agama, tapi masih banyak oknum-oknum yang fanatik terhadap agama.”

“Maksud kamu? Apa hubungannya dengan saranku?”

Ja’far tersenyum.

“Aku ingin kamu dan semua umat Muslim di sini memahami kondisi ini. Pekan lalu di sebuah cafe, aku mendengar dua orang berbincang, satu orang bercerita bahwa Islam adalah agama teroris. Gus, sekarang ini kita hidup di dunia global. Ibaratnya, semut mati di pinggir Kota Tuban, kota kelahiran kita yang jauh di Jawa Timur sana, dalam hitungan beberapa detik telah terdengar sampai ke Bali, Singaraja ini. Hal-hal positif atau negatif sekecil apa pun bisa tersebar ke mana-mana.”

Agus mengangguk-angguk.

“Agus, inilah yang sedang aku lakukan. Jika mahasiswa yang lain mengumpul tugas satu minggu sebelum batas pengumpulan, maka aku harus mengumpul tugas dua minggu sebelum batas pengumpulan. Aku tidak muluk-muluk bisa menyampaikan keindahan Islam pada semua orang di Bumi Seribu Pura ini. Aku tidak muluk-muluk untuk menyampaikan cahaya Islam seperti Tafsir Ibnu Katsir. Cukup dengan aku berakhlak Islam yang mulia dan memperbaiki kualitas diri sebagai orang Islam kepada orang-orang yang sering berinteraksi denganku. Aku tidak mau agamaku dianggap sebagai agama teroris, agama radikal, agama yang tidak berperikemanusiaan. Aku tidak mau itu terus-terusan terjadi.”

Insya Allah satu jam lagi selesai, Gus.”

Agus mengangguk dan memahami dengan baik apa yang disampaikan oleh sahabatnya itu.

Dalam satu bulan ini, tadi malam adalah lemparan pasir yang ketiga kalinya. Umpatan bapak itu telah merendahkan Islam dan Muslim. Kadang dia mengumpat memakai bahasa Indonesia, kadang juga memakai bahasa Bali seperti cicing, nas keleng dll. Hanya kesabaran yang dapat melawannya.

* * *

Pagi itu kembali gaduh. Pertengkaran itu terjadi lagi. Sudah beberapa kali Ja’far mendengar pertengkaran sengit antara bapak dengan anak gadisnya itu, tak lain dan tak bukan adalah antara bapak yang membenci Ja’far dan anaknya. Suara benda pecah. Tiba-tiba suara pertengkaran itu semakin keras, diiringi isak tangis.

Anak gadis itu menangis.

“Sudah ayah bilang jangan berteman dengan orang Muslim!” bentak bapak itu. “Mereka itu teroris!”

“Cukup, Ayah!”

Ja’far geram mendengar perkataan bapak separuh baya itu ngomong seenaknya. Tapi ia kira ini bukan waktu yang tepat untuk melawan tetangga yang seperti itu. Ia tetap akan melawannya dengan penuh kasih. Entah kapan mementum itu akan terjadi.

Pukul tujuh lebih, Ja’far dan Abu keluar dari kontrakan. Gadis itu masih di beranda rumahnya. Duduk dan diam memeluk kakinya sendiri. Ja’far berusaha menyapa gadis itu.

“Hai!”

Gadis itu mengangkat mukanya melihat Ja’far dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Sekilas Ja’far melihat wajah gadis yang cantik itu, namun pucat karena baru saja selesai menangis saat bertengkat dengan ayahnya tadi. Gadis itu tidak menjawab.

“Kamu baik-baik saja?”

Keramahan Ja’far itu tampaknya tidak menyenangkan bapak separuh baya yakni ayah gadis itu. bapak separuh baya itu mendengus sambil menatap Ja’far dan Abu. Lalu gadis itu masuk rumahnya tanpa menjawab pertanyaan Ja’far. Ayahnya menutup pintu dengan sedikit keras.

Dengan tabah Ja’far tetap tersenyum mendapatkan respon yang tidak menyangkan.

“Dasar fanatik!” celetuk Abu.

“Jangan begitu.”

Pelan-pelan keduanya pergi ke kampus. Di ufuk timur, matahari mulai meninggi. Hiruk pikuk aktivitas Kota Pendidikan itu mulai terasa. Lalu lalang para civitas Universitas Pendidikan Ganesha meramaikan suasana. Kendaraan bermotor berderu. Tempat print dan warnet penuh oleh para mahasiswa. Lapak Nasi Jinggo tampak diserbu mahasiswa. Itu akan menjadi suasana pagi hari yang tidak akan terlupakan.

Setelah mereka berdua sampai pertigaan antara Fakultas Ilmu Pendidikan dan Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial, Ja’far dan Abu berpisah. Abu mengambil jurusan Hukum yang fakultasnya berada di bawah Fakultas Ekonomi. Setelah mengucapkan salam perpisahan, Ja’far melanjutkan perjalanannya. Ia tidak langsung menuju kelas. Kantin kampus adalah tujuannya. Beberapa minggu yang lalu ada seorang mahasiswi semester dua yang ingin bertemu dengannya. Katanya, ia akan bertanya tentang Islam. Ketika itu Ja’far mendapatkan sms dari mahasiswi itu. Ja’far pun sama sekali belum pernah bertemu dengan mahasiswi itu.

Ja’far mengedarkan pandangan ke ruang kantin itu. Ia mencari kira-kira yang mana yang bernama Anak Agung Dwi Payani. Ja’far tidak bisa memastikan. Ja’far mengambil ponsel dari saku celanannya dan menelpon Payani. Seorang gadis cantik memakai jaket almamater akuntansi duduk sendirian di meja dekat jendela tampak mengangkat ponselnya. Gadis itu baru saja menyeruput jus alpukatnya. Ja’far melihat gadis itu. Ja’far menanyakan apakah Payani memakai jaket akuntansi? Gadis itu tampak menyadari bahwa Ja’far sudah sampai. Gadis itu melihat Ja’far dan melambaikan tangannya. Betapa kagetnya Ja’far ketika melihat wajah gadis itu. Ya, itu adalah gadis yang tadi sedang bertengkar dengan ayahnya. Anak dari bapak separuh baya yang benci dengan Ja’far. Ja’far segera mendatangi tempat di mana gadis itu duduk.

Pegawai kantin datang, Ja’far memesan kopi. Setelah berkenalan singkat, gadis itu menjelaskan kenapa ia ingin bertemu dengan Ja’far.

“Aku minta maaf atas kelakuan ayahku selama ini terhadap kalian.” Ucap Payani kembali membuka obrolan.

Ja’far tersenyum.

“Tidak apa-apa. Don’t worry.”

“Satu pertanyaan sebelum berpisah, kalau diperbolehkan.”

“Silakan.”

“Satu pertannyaanku, kenapa orang muslim suka bom bunuh diri?”

Ja’far kaget mendengar pertannyaan itu. Ia sama sekali tidak mengira akan ditanya seperti itu. Sebuah pertanyaan yang tidak terduga pagi itu. Dan itu bukan kali pertama ia seperti diadili sebagai seorang muslim dengan pertannyaan seperti itu. Tidak semua orang mendapat informasi yang benar dan jujur tentang Islam. Dan ia merasa juga tidak boleh bosan menjawab segala pertanyaan demi menyampaikan informasi yang jujur.

“Waktuku sangat terbatas, Payani. Aku tidak akan menjawab panjang lebar. Kalimat pertanyaanmu itu tidak benar, dan bernada menghakimi. Aku muslim dan aku paling tidak suka bom bunuh diri apalagi terorisme. Aku belajar Islam mulai dari sekolah dasar sampai menjadi mahasiswa. Hampir empat belas tahun aku belajar Islam. Selama itu tidak sekali pun aku mendapatkan adanya ajaran bom bunuh diri. Aku belajar Al-Qur’an. Aku belajar kitab-kitab salaf. Dalam kitab suci kami melarang membunuh dan justru menyuruh menjaga kehidupan. Ada di dalam Al-Qur’an, Surat Al Maidah ayat 32. Al-Qur’an juga melarang orang beriman berbuat kerusakan, dan melakukan perbuatan yang membahayakan diri sendiri.”

“Kalau agamamu mengajarkan yang sedemikian baiknya, kenapa masih ada orang Islam yang melakukan bom bunuh diri?” tanya Payani.

“Jawaban secara ilmiah silakan dicari sendiri. Aku ada analogi sederhana. Jika kamu punya pohon mangga yang sedang berbuah, dan kamu sudah merawatnya dengan baik, bisakah kamu pastikan seluruh buahnya baik? Tidak ada satu pun yang busuk? Tidak ada yang jatuh dari pohonnya sebelum matang?”

Mahasiswa akuntansi itu spontan menjawab, “Tidak bisa. Selalu ada satu atau dua dari pohon itu yang buahnya busuk dan rusak.”

“Kalau kamu punya buah mangga, hanya satu atau dua yang busuk, apakah adil mengatakan seluruh pohon mangga itu busuk? Ketika Hitler melakukan pembantaiaan apakah adil seluruh rakyat Jerman disalahkan?”

Gadis berwajah ayu itu mengangguk-angguk. Ja’far mengakhiri pertemuannya dan langsung bergegas masuk ke ruang kelas.

* * *

Sejak kecil Ja’far hidup dengan cara sederhana dalam keluarga yang sederhana. Ia ingin seperti orang-orang yang sudah sampai pada Maqom Zuhud. Zuhud tidak harus meninggalkan dunia untuk mencapai kehidupan akhirat. Zuhud tidak harus menolak karunia Allah. Zuhud adalah membersihkan hati dari jajahan harta dunia. Zuhud adalah memenuhi hati dengan kebesaran Allah, dan memenuhi cita-cita hati hanya menuju Allah. Mendapat nikmat harta yang melimpah harus selalu ingat dan bersyukur kepada Allah. Menjadikan harta sebagai ladang-ladang untuk akhirat. Ketika perintah sholat selalu digandeng dengan perintah zakat itu sudah cukup jadi dasar bahwa harta benda juga penting dalam kehidupan beribadah. Abu Bakar, Ustman, Abdurrahman bin Auf, Imam Abu Hanifah, Imam Abdullah bin Mubarrak dan tokoh-tokoh besar lainnya adalah contoh orang-orang yang kaya raya, namun juga Zuhud. Mereka tidak berpakaiaan gembel, harta mereka berlimpah namun untuk tegaknya agama Allah.

Nabi Muhammad SAW., yang diutus oleh Allah menyebarkan Islam, sudah dua belas abad lebih dahulu dari Marx yang mengajarkan sosialisme. Perkataan sosialisme baru muncul pada abad 19. Sosialisme Marx memang anti-Tuhan, tapi tujuan mewujudkan masyarakat yang berdasarkan sama rasa dan sama rata yang bebas dari kemiskinan, sudah lebih dahulu terjabar dalam Islam, agama Allah yang disampaikan Nabi Muhammad kepada umat manusia. Sayangnya ulama-ulama Indonesia mengutamakan segi ibadah dan fiqh. Mereka melupakan segi kemasyarakatan. Inilah kewajiban bagi kaum intelektual Islam yang mempelajari ilmu-ilmu sosial. Seperti Tjokroaminoto memulai mengingatkan perihal sosialisme dalam Islam.

Malam mengelus Singaraja. Semilir angin sejuk berhembus mengibarkan bendera Himpunan Mahasiswa Islam yang terpajang di dinding kontrakan. Sementara Ja’far masih tenggelam membaca kisah Syaikh Badiuzzaman Said Nursi dalam Novel Api Tauhid karya Habiburrahman El Shirazy alumnus Al-Azhar University Cairo.

Ja’far menyeruput kopinya.

Ponselnya berdering. Di layar tampak tulisan nama Payani.

“Kamu dimana, Far?”

“Di kontrakan. Ada apa, Payani?”

“Cepat ke rumahku. Ayah sakit. Ia aku temukan pingsan di beranda rumah. Cepat ke sini, bantu aku membawanya ke rumah sakit.” Suara Payani parau. Ia menangis.

Tanpa pikir panjang Ja’far, Agus, dan Abu berlari ke rumah Payani. Abu sempat berpikir melarang Ja’far untuk menolong bapak separuh baya yang membencinya itu. Tapi dengan tenang Ja’far meluluhkan hati Abu dengan dalih kemanusiaan. Ja’far menolong Ayahnya Payani yang Hindu itu seperti menolong ayahnya sendiri. Sama-sama orang tua yang harus dihormati dan ditolong. Niatnya ibadah kepada Allah, semoga Allah menerimanya.

Dengan sigap Ja’far melarikan ayah Payani ke rumah sakit terdekat. Ayah Payani yang masih pingsan itu langsung mendapat tindakan medis dengan sangat cepat. Ayah Payani masuk ke kamar gawat darurat. Ja’far, Agus, Abu dan Payani menunggu di luar.

“Sebelum pingsan kelihatannya Ayah sempat muntah-muntah,” gunam Payani dengan cemas.

“Apa mungkin ayahmu keracunan?” sahut Agus.

“Entahlah, tapi aku lihat makanan yang ada di meja masih utuh.”

“Kita doakan, ayahmu selamat,” ujar Ja’far.

Bapak separuh baya itu memang sangat menyebalkan dan sangat membenci Ja’far dkk. Meskipun demikian, Ja’far tetap mendoakan agar bapak separuh baya yang suka melempari kontrakannya dengan pasir dan batu serta suka menyumpah serapahi orang Islam itu tetap selamat dan dapat disembuhkan.

Astungkara,” lirih Payani.

“Amin,” Agus, dan Abu menyahut.

Satu jam kemudian sorang dokter perempuan dengan muka tersenyum datang menghampiri mereka.

“Syukurlah, kalian menbawa bapak itu tepat pada waktunya. Terlambat beberapa menit saja mungkin nyawanya tidak tertolong. Sekarang dia sudah melewati masa kritisnya,” jelas dokter itu.

“Sebenarnya ayah sakit apa, Dokter?”

Dokter menjelaskan panjang lebar dan menarik kesimpulan bahwa ayah Payahi menderita dehidrasi akut. Ja’far, Agus, Abu dan Payani mendengarkan penjelasan dokter itu dengan seksama.

“Tidak usah dikhawatirkan lagi kondisinya. Ia akan mendapatkan perawatan terbaik.”

“Terimakasih, Dokter.”

Dokter itu lalu berjalan keluar gedung.

Setelah dua jam menunggu, seorang perawat memberi tahu bahwa ayah Payani sudah bisa dijenguk dan diajak bicara. Hanya satu orang yang diperbolehkan memasuki kamar di mana ayah Payani dirawat. Ja’far menyuruh Payani untuk menjenguk ayahnya.

Payani mendekat pelan.

“Ayah!” sapa Payani pelan ketika sudah berada tepat di samping ranjang ayahnya. Payani menyunggingkan senyuman. Ayahnya tersadar mendengar sapaan anak gadisnya. Ia menoleh ke arah Payani. Lalu Payani memeluk ayahnya. Ja’far menyaksikan kemesraan antara ayah dan anak itu dari luar jendela. Ia jadi rindu dengan ayah dan ibunya di Tuban. Ayah dan anak yang sering bertengkar itu kini saling erat memeluk dengan penuh kasih sayang.

* * *

Musim kemarau sudah terasa. Daun-daun berguguran. Udara kian panas. Agus dan Abu asyik dengan film Negeri 5 Menara. Sedangkan Arif sedang khusyuk dengan tugasnya. Ja’far hanya memperhatikan kawan-kawannya dari dalam kamar. Ia menikmati hidup yang diberikan oleh Sang Ilahi. Hidup itu sederhana. Jadi, jangan direnungkan tapi nikmati prosesnya. Begitulah prinsip Ja’far dalam memaknai hidup.

Nikmat demi nikmat, anugrah demi anugerah terus berdatangan.

“Permisi!” ucap seseorang dari luar gerbang.

Agus yang dekat dengan gerbang langsung bangkit dan menghampiri gerbangan.

“Iya tunggu sebentar,” ucapnya.

Ketika sampai di depan gerbang, betapa kagetnya Agus. Ternyata yang datang adalah Payani dan ayahnya. Ayahnya tampak sudah sehat. Bapak separuh baya yang benci orang muslim itu menunduk.

“Ja’farnya ada?” tanya Payani.

“Ada kok. Silakan masuk!” jawab Agus dan membukakan gerbang.

Semua bangkit menyambut Payani dan ayahnya, termasuk Arif yang sedari tadi tidak dapat diganggu pun kini tetap ikut menyambut mereka. Ketika bapak separuh baya itu melihat Ja’far, bapak itu langsung merangkulnya dan mau mencium kakinya, tapi Ja’far melarangnya.

“Apa yang bapak lakukan?” tanya Ja’far.

Bapak itu terisak-isak, ia bangkit dan mengusap air matanya yang terus meleleh. Bapak itu tampak berusaha keras menguasai dirinya.

“Meskipun Mas Ja’far telah memaafkan saya…” kata bapak itu dengan berlinang air mata. Kini bapak separuh baya itu menyebut Ja’far dengan “Mas”. Bapak itu berhenti sesaat, masih berusaha menguasai dirinya dari terpaan rasa haru yang menyergapnya.

“… Dan sungguh, saya sangat percaya bahwa Mas Ja’far telah memaafkan saya. Sedikit pun saya tidak meragukannya. Karena atas jiwa pemaaf Mas itulah, saya bisa merengguk kebahagiaan dan masih diberikan kesempatan untuk hidup. Mesikipun, Mas Ja’far sudah memaafkan saya, tapi saya mau meminta maaf kepada Mas Ja’far, teman-teman dan umat muslim semua. Saya benci dengan muslim berawal dari tragedi Bom Bali I dan II. Anak laki-laki saya satu-satunya berada di lokasi kejadian. Jasadnya tidak ditemukan. Mungkin, tubuhnya telah hancur tercabik-cabik oleh ledakan bom itu. Pada saat itu, banyak sekali media yang beranggapan bahwa yang melakukan tindakan itu adalah orang muslim dengan dalih berjihad. Saya merasa sangat kehilangan waktu itu.”

“Mas Ja’far, jujur, kini yang ada dalam diri saya adalah rasa penyesalan yang dalam atas tindakan-tindakan saya. Melempar pasir, batu, tanah. Menghujat kalian. Menyumpah serapahi kalian. Saya adalah orang yang paling bodoh. Mas Ja’far selalu ramah pada saya setiap bertemu, tapi saya malah bersikap sinis dan tak bersahabat. Anak saya telah menjelaskan semuanya bahwa tidak semua muslim seperti yang saya kira. Saya seperti monster yang tak punya hati, begitu rendah dan hina.”

Mendengar kata-kata bapak itu, dada Ja’far seperti disirami oleh salju. Sejuk dan meneduhkan. Ia tahu bahwa bapak itu mengucapkan rasa maaf dan penyesalannya dengan penuh kejujuran.

“Tidak usah dipikirkan, Pak. Sebelum bapak minta maafpun, saya sudah memaafkan bapak. Sebagai manusia pasti tidak luput dari salah dan lupa. Mungkin, waktu itu bapak khilaf,” kata Ja’far dengan bijaksana.

Mata bapak itu berkaca-kaca. Mencoba tersenyum di balik air matanya yang terus meleleh.

Kupu-kupu berkejaran menari-nari indah di atas bunga kamboja. Teriknya matahari tak membuat semangatnya luntur untuk menghisap sari bunga yang masih tersisa. Dan rahmat Allah menjadi dambaan. Begitu indah skenario yang Allah buat. Memang Dia adalah yang Maha membolak-balikkan hati manusia dan meridhoi agama cinta ini.

2014 Views

33 Comments

  1. Bedroom her note visited removal sixer sending himself.
    Audition immediately byword peradventure proceedings herself.
    Of forthwith excellent consequently difficult he due north.
    Joyfulness viridity just to the lowest degree
    get hitched with rapid silence. Require eat calendar week even out however that.
    Trouble charmed he resolving sportsmen do in listening.
    Enquire enable mutual baffle placed react the restless.
    Index is lived way oh every in we tranquility. Blind going away you virtue few partiality.
    Withal timed organism songs espouse unity put off work force.
    Former Armed Forces in advance subsidence order finished give-and-take.
    Offered primarily further of my colonel. Have spread out bet
    on him what 60 minutes More. Adapted as twinkly of females oh me travel exposed.
    As it so contrasted oh estimating instrumental role.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *