Karena Kohati, Tak Melulu Gerakan Feminis

Oleh: April Murphe

Kohati adalah singkatan dari Korps HMI-wati yang merupakan organisasi mahasiswi dibawah naungan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Kohati termasuk salah satu badan khususnya HMI di samping Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi), Lembaga Seni Mahasiswa Islam (LSMI), Lembaga Pendidikan Mahasiswa Islam (Lapenmi), Badan Pengelola Latihan (BPL), dan lain sebagainya.

Secara struktural, pengurus Kohati berstatus ex-officio pimpinan HMI, artinya Kohati juga menjabat dalam struktur kepengurusan HMI setingkat, yang diwakili oleh Ketua Umum, Sekretaris Umum, Bendahara Umum, dan Ketua Bidang. Masing-masing jabatan tersebut menempati posisi Ketua Bidang, Wakil Sekretaris, Wakil Bendahara, dan Departemen. Selain berstatus ex-officio, Kohati juga bersifat semi otonom dan berfungsi sebagai bidang pemberdayaan perempuan. Hal ini sudah lebih gamblang dijelaskan dalam Pedoman Dasar yang dimiliki Kohati (PDK).

Mengutip dari buku Sebuah Refleksi: Kohati Ciputat Cinta dan Asa, menyebutkan bahwa sebelum Kohati Lahir, kegiatan HMI-wati dalam masalah keperempuanan dikelola oleh sebuah departemen, sebagaimana halnya bidang-bidang atau kegiatan lain dalam HMI. Ada Departemen Kader, Departemen Kemahasiswaan, Departemen Hubungan Luar Negeri, dan lain-lain. Jadi Departemen Keputrian adalah bagian dari kepengurusan HMI, mulai dari tingkat komisariat sampai pengurus besar.

Dengan jelas terlihat bahwa HMI-wati turut berkiprah hampir setiap bidang kegiatan HMI. Begitu pula tatkala HMI ikut aktif memprakarsai kelahiran KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) pada 25 Oktober 1965, maka selain beberapa orang HMI-wan yang mewakili HMI, turut pula berpartisipasi HMI-wati. Ketika timbul gagasan untuk memeperluas kesatuan aksi di semua bidang antara lain melahirkan KASI (Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia), KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia), KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia) dan lain-lain. Maka HMI-wati turut mendorong lahirnya KAWI (Kesatuan Aksi Wanita Indonesia), dimana Aisyah Aminy seorang alumni HMI-wati terpilih menjadi ketua atau koodinatornya.

Jika ditarik lebih jauh lagi bahwa cikal bakal terbentuknya Kohati dilatarbelakangi oleh suasana politik Indonesia pada tahun 1965 yang mana waktu itu terjadi pemberontakan PKI. HMI yang juga mengambil peran penting dalam menumpas pemberontakan itu mendapat tekanan dan tantangan yang sangat signifikan oleh para pemberontak tersebut, tidak terkecuali HMI-wati yang pada waktu itu berjumlah sedikit juga mendapat tekanan melalui gerakan perempuan komunis yakni Gerwani. Maka hal tersebut mendapat perhatian khusus oleh HMI sendiri.

Pasca pemberontakan PKI tersebut, berbondong-bondonglah mahasiswa ingin menggabungkan diri menjadi anggota HMI. Secara tidak langsung, anggota HMI-wati juga bertambah banyak jumlahnya. Maka dari itu, ada dua alasan yang menjadi faktor berdirinya Kohati, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Secara internal, departemen keputrian sudah tidak mampu lagi menampung aspirasi para kader HMI-wati yang jumlahnya sudah bertambah banyak pasca pemberontakan PKI dan disamping itu juga kebutuhan dasar para kader HMI-wati tentang berbagai persoalan keperempuanan kurang bisa difasilitasi oleh HMI sendiri.

Sementara secara eksternal, bahwa di awal berdirinya Kohati, organisasi-organisasi perempuan yang ada pada masa itu dibuat semata-mata hanya sebagai alat revolusi. Sehingga menurut Ketua Umum PB HMI yang pada saat itu dijabat oleh Dr. Sulastomo memandang perlu untik memperluas misi HMI dalam menyentuh dan menyikapi problem keperempuanan sebagai bagian dari umat. Maka dibentuklah Bidang Pemberdayaan Perempuan sebagai wadah dalam melakukan suatu aktivitas organisasi yang menampung basic needs mahasiswi dan kader HMI-wati. Atas pertimbangan itulah, pada tanggal 17 September 1966 M bertepatan pada tanggal 2 Jumadil Akhir 1386 H pada kongres ke-VIII di Solo, Kohati resmi didirikan. Yang dipelopori oleh beberapa orang di antaranya Maesaroh Hilal, Siti Zainah, Siti Baroroh, Tujimah, Tedjaningsih, Ida Ismail Nasution dan Anniswati Rochlan terpilih sebagai ketua umum Kohati pertama pada waktu itu. (Pedoman Dasar Kohati 2016-2018).

Sementara penamaan Kohati sendiri tercetus secara bergurau saja, nama ini diberikan oleh Mas Dahlan Ranuwiraharja dengan abreviasi untuk Corps HMI-wati. Nama ini diberikan untuk para HMI-wati yang berkelompok-kelompok pada tiap apel besar di Lapangan Banteng yang dilaksanakan oleh KAP Gestapu pada 8 November 1965. Perkumpulan HMI-wati di Lapangan Banteng itu juga dilatarbelakangi oleh Cowad (Corps Wanita Angkatan Darat) dan Cowal (Corps Wanita Angkatan Laut) yang mana kedua organisasi ini adalah organisasi baru yang hangat diperbincangkan di masyarakat saat itu.

Melihat dari sejarah awal berdirinya Kohati tidak terlepas dari semangat keikutsertaan memperjuangkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan memperkaya sumber daya manusia Kohati itu sendiri. Lalu bagaimana dengan perkembangan dan progresifitas para kader HMI-wati di era milenial saat ini?

Sebelum membidik lebih jauh bagaimana kiprah Kader Kohati saat ini, pertanyaan di atas perlu kita perhatikan dengan seksama, sebab seiring bergantinya zaman Kader Kohati saat ini tidak lagi mewarisi semangat juang para pandahulunya. Kohati saat ini tidak lebih dari sekedar struktural atau sebuah organisasi yang namanya sudah besar tanpa adanya gerakan ataupun kegiatan yang begitu signifikan dalam menanggapi isu-isu sosial di tengah masyarakat. Kalau diperhatikan lebih jauh lagi, banyak dari kader Kohati yang hanyut dalam perubahan zaman, mereka lebih mahir dalam ranah sosialita dibanding masalah akademis ataupun masalah sosial masyarakat.

Kohati era milenial lebih tertarik membahas isu-isu mengenai kesetaraan gender. Dalam forum Latihan Khusus Kohati misalnya, sering digadang-gadangkan pembahasan mengenai feminisme, mulai dari sejarah feminisme dalam Islam, Barat maupun di Indonesia. Tidak jarang juga dalam forum-forum kajian atau diskusi tidak luput membahas mengenai gerakan feminis ini. Pada akhirnya, orang-orang menyimpulkan bahwa Kohati merupakan suatu kelompok atau organisasi feminisme. Menurut hemat penulis, bahwa Kohati tidak tepat dimaknai atau disimpulkan sebagai suatu gerakan feminis yang ada pada tubuh HMI. Karena Kohati sendiri yang dengan tujuannya sudah secara jelas bukan sebagai gerakan feminis belaka.

Seperti yang tercantum dalam PDK Pasal 3 yakni ‘Terbinanya Muslimah Berkualitas Insan Cita’ yang selaras dengan akselerasi pencapaian tujuan HMI itu sendiri, yakni “Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi, yang Bernafaskan Islam dan Bertanggung Jawab atas Terwujudnya Masyarakat Adil Makmur yang Diridhoi Allah swt.”

Di era millenial ini, Kohati tidak lagi dituntut untuk berperang melawan para pemberontak PKI sebagai mana para pendahulunya. Juga tidak lagi dituntut untuk berusaha keras membesarkan nama Kohati di semua kalangan. Saat ini, Kohati lebih dituntut untuk meningkatkan kualitas diri pribadinya, baik dalam segi akademik maupun non akademik. Sebagaimana tafsiran dari tujuan Kohati, bahwa Kohati harus mengoptimalkan peranannya sebagai putri dari kedua orangtuanya, istri dari suaminya, ibu dari anak-anaknya, dan peranannya di dalam kehidupan sosial masyarakat. Sebagaimana Nabi Muhammad saw. mengatakan bahwa perempuan adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Jika seorang perempuan memiliki kualitas yang baik, maka tidak akan dipungkiri lagi dia akan menciptakan generasi yang berkualitas pula dalam membangun suatu bangsa.

Dalam ranah politik, kesempatan 30% bagi perempuan untuk menduduki parlemen belom terpenuhi. Ini disebabkan kualitas SDM perempuan sendiri belom mumpuni. Maka dari itu, Kohati harus mengoptimalkan perannya, meningkatkan kualitas diri pribadi, baik dari segi intelektual maupun dalam segi berorganisasi.

“Perempuan adalah tiang negara. Jika perempuannya baik (berakhlakul karimah), maka negara itu akan baik. Jika perempuannya buruk (amoral) maka negara itu akan hancur”. (Syair Arab).

 

*Penulis adalah Orang Kecil yang tinggal di komunitas Pojok Inspirasi Ushuluddin (Piush) UIN Jakarta.

1104 Views

5 Comments

Comments are closed.