Titik Temu antara KOMFUF, Awkarin, dan Ria Ricis

*Fauzan Nur Ilahi

Ada yang menggelisahkan saat mendengar kata “KOMFUF”. Entahlah, apa gelisah ini hanya hadir di hatiku, atau sebetulnya ini merupakan rasa yang mengendap di setiap dada kader HMI Komisariat Ushuluddin dan Filsafat yang akrab dengan akronim KOMFUF itu. Sumpah demi Dewa, aku tak tahu.

Tentu kita sama-sama tahu bahwa gelisah merupakan sebuah respon diri. Dia hadir bukan dari ruang yang hampa, tetapi sebuah konsekuensi dari sebuah fenomena. Karenanya, saat kita berbicara soal gelisah, maka pertanyaan yang pantas diutarakan adalah: mengapa gelisah ini muncul?. Dan tulisan ini akan mencoba memuat jawaban itu. Sekurang-kurangnya, dari pengalamanku pribadi sebagai kader KOMFUF, ya walaupun identitas “kader” terhadapku ini masih problematis.

Baiklah. Mari kita mulai.

Sebagai seorang Muslim, kita mengenal ungkapan “laa yamutu, wa laa yahya” di dalam kitab Al-Qur’an. Ya walaupun aku bukan muslim yang taat, setidaknya aku taulah arti dari ungkapan ini adalah tidak mati; tidak juga hidup. Stagnan. Dan aku merasa, ungkapan ini pantas disematkan kepada KOMFUF selama ini (setidaknya dua periode yang lalu sejak aku aktif di dalamnya). Mengapa demikian?

Jadi gini, aku merasa KOMFUF merupakan komisariat yang paling miskin kegiatan jika dibandingkan dengan komisariat lainnya. Ini bahkan sudah menjadi rahasia umum. Bagaimana tidak, sejak pergantian pengurus tahun lalu pun di KOMFUF tidak ada progres apapun. Kegiatannya pun bisa dihitung dengan jari (kalau tidak mau dibilang tidak ada sama sekali). Paling banter, KOMFUF hanya mengadakan kegiatan Latihan Kader atau LK (entah 1 atau 2) bagi para calon kadernya. Setelah itu, kosong. Hilang dengan cepat bagai jurus flash-nya Minato dalam serial anime Naruto itu.

Bahkan dalam kegiatan LK pun kita (baca: KOMFUF) sering lelet (kalau tidak mau dikatakan se-lambat-lambatnya). Misalnya tahun ini. Di saat dua minggu setelah PBAK organisasi lain sudah siap dengan kegiatan rekrutmen anggotanya, kita masih saja leha-leha di belakang meja sambil ketawa nonton orang joget-joget main Tik-Tok sepuasnya.

Jika sudah demikian, kata “kaderisasi” menjadi usang. Kakak tingkat, senior, atau mentor yang memang sudah sewajarnya membimbing serta mengarahkan adik tingkat atau juniornya, sering memekikkan supaya kita berupaya dalam kaderisasi. Hal ini tidak salah. Tetapi menjadi perlu dipertanyakan jika kondisi komisariat (mungkin juga cabang) carut marut seperti yang sudah dijelaskan.

Bukannya mau bodo amat, tetapi suatu upaya kaderisasi dengan orientasi yang tidak jelas, apalagi ditambah dengan nihilnya sokongan dari komisariat, membuat aku pribadi berkali-kali mukul tembok saking kesalnya persis seperti orang yang diputusin do’i pas lagi sayang-sayangnya. Karena melakukan suatu hal dengan harapan yang tidak jelas itu sakit!

Jika kita bermain-main dengan analogi, KOMFUF ini ibarat wadah yang retak. Sudah retak, orang-orang yang ada di dalamnya pun ogah-ogahan untuk memperbaiki. Bukannya saling membantu, malah saling menipu dan menggerutu. Sehingga bukannya perbaikan yang ditemui, tetapi justru pembusukan dalam wadah itu sendiri. Maka apa makna kaderisasi jika para kader ini akhirnya juga luntang lantung ke sana ke mari membawa alamat, namun yang ditemui bukan dirinya, aduh.. aduh.. sayaaangg.. ~~

Eh, maaf. Saya terbawa suasana dangdut Ayu Ting-Ting. Sebab memang lebih asyik mendengarkan musik dangdutnya Ayu Ting-Ting sambil minum kopi, ditemani satu atau dua batang rokok plus buku-bukunya Cak Nur yang siap dibaca daripada harus pusing-pusing mikirin penyakit KOMFUF yang kian kronis.

Hanya saja sebagai kader sepertinya kita harus huznudzon. Siapa tahu KOMFUF memang lagi ingin menghilang untuk kembali; pamit untuk datang lagi, persis yang dilakukan Ria Ricis dan Awkarin belum lama ini. Toh, cara ini juga berhasil menggait fans atau penggemar. Siapa tahu ini juga efisien untuk menggaet kader milenial, kan? Keren kan KOMFUF bisa se-visioner itu?!

Makanya, daripada gelisah mikirin KOMFUF, mending buang jauh-jauh itu gelisah dan mari kita dangdutan!.

 

*Penulis adalah Kader HMI Komfuf, Mahasiswa Studi Agama-Agama Semester 7 dan Pegiat Indonesian Culture Academy.

 

319 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *