Turbulensi Perkaderan Intelektual Ciputat

Oleh: Ihsan Harivy

Sejak tahun 60-an Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ciputat mendeklarasi sebagai organisasi otonom. HMI semacam berpangku tangan terhadap Ciputat dalam aspek ideologis, seperti benturan antara negara dan agama begitupun Islam dan Indonesia. Ciputat dengan dialektikanya menjadi katalisator kedua sektor teori ini.

Bukan tanpa alasan kenapa pada akhirnya Ciputat menjadi sentra intelektual bagi HMI di tengah gelombang besar kampus-kampus tenar di Indonesia. Ciputat dengan civitas akademikanya mampu merajut benang agama dan negara.

Sebab lain pada tahun 60-an itu bila meminjam kata Nurcholish Madjid atau lebih dikenal dengan nama Cak Nur, salah satu alumni HMI Ciputat soal buku Islam dan Sosialisme H.O.S. Tjokro Aminoto HMI melakukan transisi ideologi ke arah yang lebih modern dan independen dari model ideologi apoligetik dan tradisional. Hal inilah yg pada akhirnya menjadikan Ciputat semacam locus of intellectual-nya HMI. Nama-nama besar lainnya dengan karya besar menghiasi langit Ciputat, sebut saja Cak Nur, Azyumardi Azra, Fachri Ali, Komarudin Hidayat dan sederet nama lainnya. Mereka adalah tulang punggung berdirinya stigma intelektual HMI Ciputat.

Romantisme: Gemilang Peradaban Masa Lalu Ciputat.

Era 60-an merupakan golden age bagi HMI. Pergolakan politik orde lama yang terus dirong-rong oleh sekelompok oposan membuat HMI berada pada poros tengah, diantara oposan dan kekuasaan. HMI menjadi poros tengah barisan kekuatan yang amat diperhitungkan. Ciputat sebagai nama besar memiliki andil terbesar dalam dinamika pergolakan tersebut.

Melalui Cak Nur HMI mengalami lesatan akselerasi dalam pergerakan maupun pemikiran. Kiprah Cak Nur menulis sebuah pijakan ideologis HMI yakni Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) membuat Ciputat membahana. Sebab Ciputat merupakan kiblat ideologi HMI melalui Nilai-nilai Dasar Perjuangan.

Sebuah perjalanan panjang nan serius, penulisan NDP bukan tanpa alasan. Cak Nur melihat organisasi ekstra Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) memiliki buku saku ideologi organisasi, hingga keresahan Cak Nur terhadap kondisi umat Islam di Indonesia. Perjalan Cak Nur mengelilingi timur tengahlah yang menjadi latar belakang ditulisnya NDP yang sebelumnya diberi judul Nilai-nilai Dasar Islam. Ideologi yang merupakan produk ide ini juga direpresi oleh pemerintah orde baru dan sempat bertransformasi menjadi Nilai-nilai Identitas Kader (NIK). Gelombang benturan politik Indonesia menjadi hikmah buat Cak Nur untuk merealisasikan mimpi besarnya untuk himpunan ini.

Ciputat Kini: Sebuah Refleksi

Hegemoni besar serta euforia masa lampau HMI Ciputat kini hanya menjadi warisan sejarah, efek bergesernya kultur intelektual HMI Ciputat. Transformasi peradaban dan perkembangan teknologi menjadikan kultur akademik kian tergerus dan mengalami dekadensi. Namun para kader maupun alumni yang menyadari perubahan ini, juga melakukan diagnosa-diagnosa dan berupaya melakukan proses renaisance peradaban yang kian terpuruk ini.

Seperti penerbitan buku “Membingkai Perkaderan Intelektual” walaupun terkesan romantisme akan tetapi alumni mengharapkan agar melalui karya tersebut kader HMI Ciputat kembali bangun secara solid untuk memegang teguh legacy tersebut. Pun dengan para kader yang menyadari kondisi HMI Ciputat, mereka bak lilin yang semakin hari semakin redup dan terkikis, membuka ruang-ruang dialektis, diskusi dan literasi. Namun kelompok-kelompok yang sadar akan kondisi hari ini merupakan kelompok kecil yang juga mengalami benturan negatif transformasi budaya dan teknologi informasi.

Akhirnya penulis berpendapat, tiada artinya opini ini bila hanya menjadi sebuah ratapan. Melalui opini ini penulis memiliki harapan besar disetiap upacara perkaderan (Training Formil) agar kader HMI Ciputat membangun kesadaran budaya literasi yang massif dan konsisten. Kemudian menganggalkan label-label faksi dan golongan kepentingan yang mendegradasi HMI.

Penulis meyakini bahwa HMI Ciputat takkan pernah punah eksistensinya, dengan segala keunggulannya seperti kuantitas kader dan sejarah masa lalu. Pesan akhir pada tulisan ini adalah jangan sampai HMI Ciputat menjadi mayat hidup (zombie), yang hidup namun tak memiliki esensi dan tujuan. Yakusa!

*Penulis adalah kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fakultas Syariah dan Hukum (Komfaksy) dan Pengurus HMI Cabang Ciputat.

626 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *