Ahsan Ridhoi : Kontekstualisasi Makna Komedi dalam Buku Gusdur

Ciputat, ruangonline.com – Jurnalis dan writer, Ahsan Ridhoi menjelaskan bahwa penjelasan makna yang tertulis dalam buku yang berjudul “Melawan Melalui Lelucon” itu dengan memaknai setiap kumpulan esainya menggunakan pendekatan pribumisasi, dalam artian Gusdur selalu terlibat dengan tragedi dan dijadikannya sebagai komedi. Hal tersebut dijelaskan dalam acara Diskusi Buku yang diselenggarakan di Cafe Warung Titik Kumpul, Pisangan, Selasa (24/19)

“Jurus Gusdur itu sangat lengkap karna setiap essai atau ceritanya itu didasari dengan ilustrasi yang berada disekitarnya, mudah ditelaah oleh pembaca dan mudah dipahami dari setiap kalangan,” ujarnya.

Kearifan Gusdur dalam menyikapi kemerdekaan Palestina terhadap promblematika konflik Israel itu lebih mengedepankan perjuangan dengan kultural dibanding dengan jiwa kemiliteran. Sumber daya manusia Palestina merupakan pemasok profesional dalam bidang wartawan, sastrawan dan pengacara.

“Dalam treknya perjuangan Gusdur terhadap kemerdekaan palestina itu secara kultural. Dalam tulisannya disebutkan Palestina ini merupakan pemasok profesional dalam bidang wartawan, sastrawan dan pengacara itu dari palestina dan tersebar di negara-negara lain. Dan perjuangan kultural ini lebih dibutuhkan ketimbang perjuangan politik, apalagi angkat senjata. Pada akhirnya jurus-jurus Gusdur yang kontekstual ini sangat mampu,” tambahnya.

Kebijaksanaan Gusdur dalam menjawab problematika kemaslahatan penghidupan yang kompleks itu terlihat dalam menyelesaikan permsalahan takdir Tuhan, bahwasannya kekuasaan Tuhan itu bukan sebuah kepasrahan, akan tetapi sebagai kegigihan hambaNya dalam merubah pola kehidupan.

“Dalam sub judulnya yang berjudul “Islam tidak setuju menghapus kemiskinan ?” diceritakan pada satu seminar dimadura, dimana pemateri tersebut menjelaskan umat islam harus bekerja tidak boleh miskin, dimana harus memberantas kemiskinan. Ada peserta yg mengkritisi loh gimana mau memberantas kemiskinan, sedangkan kemiskinan itu takdir Allah. Kalo kita memberantas kemiskinan berarti kita melawan takdir Allah. Disinilah kebijaksanaan Gusdur dalam menghadapi persoalan hal tersebut bahwa seharusnya dogma itu berlaku akomodatif terhadap kehidupan manusia. Artinya memang benar kekayaan dan kemisikinan orang itu takdir Allah, akan tetapi ada ruang ikhtiar yg disediakan oleh gusti Allah,” tutupnya.

Ali Nur Alizen selaku moderator dalam acara tersebut juga menyampaikan lelucon Gusdur, penafsirannya lelucon seperti itu jelas merupakan protes terselubung (atau justru tidak) atas sulitnya menyatakan pendapat di negeri kita saat ini.

“Seorang pejabat tinggi negara kita bercerita di muka umum tentang banyaknya orang Indonesia yang mengobatkan dan memeriksakan gigi mereka di Singapura. Apakah sebabnya karena kita kekurangan dokter gigi, ataukah karena kualitas dokter gigi rendah? Ternyata tidak, karena yang menjadi sebab adalah di Indonesia orang tidak boleh membuka mulut. Dari sini kita bisa melihat bahwasannya negara Indonesia susah akan berpendapat,” tutupnya dalam penutupan acara diskusi tersebut. (Iif)

157 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *