Fatimah Al-Fihri, Perempuan Inisiator Universitas Pertama di Dunia

*Ulva Marsella

Peradaban dunia tidak terlepas dari kontribusi besar umat Islam, terlebih lagi pada masa keemasan atau disebut dengan golden age, di mana seluruh dunia berkiblat dan bergantung pada umat Islam, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan. Tidak hanya laki-laki namun perempuan juga turut berkontribusi dalam memajukan ilmu pengetahuan di dunia ini seperti Maryam Al Asturlabi dari Aleppo (abad ke-10) adalah seorang astronom terkenal, Zaynab Binte Ahmad (abad ke-14) dari Damaskus adalah seorang sarjana terkemuka dalam yurisprudensi. Dia juga guru dari musafir terkenal, Ibnu Batutah, Lubna of Cordoba (abad ke-10) adalah seorang budak yang menjadi ahli matematika dan penyair di istana Umayad di Andalusia, Al-Shifa binti Abdullah, Rufaydah Al-Aslamiyyah, Nusaybah binti Al-Harits Al-Anshari, Walada binti Al-Mustakfi, Fatimah Al-Fihri dan lain-lain.

Bahkan, jauh sebelum itu, tepatnya pada masa Rasulullah SAW. banyak perempuan yang turut berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan, seperti Aisyah ra. yang banyak mengumpulkan hadits, Hafsah binti Sirrin, ahli hadist dari Basrah (718 M) yang terkenal taqwa dan zahid dan Umu Salamah binti Zadur Rakb.
Umumnya, sejarah lebih banyak mencatat peran lelaki dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Sehingga muncul paradigma masyarakat bahwa lelaki lah yang lebih banyak berkontribusi dalam kemajuan ilmu pengetahuan. Bahkan dalam buku-buku yang digunakan lembaga pendidikan seperti sekolah pun hampir tidak menjelaskan satu pun kontribusi perempuan dalam perkembangan peradaban dunia, khususnya Islam. Padahal, kontribusi perempuan dalam ilmu pengetahuan dan peradaban itu sangatlah besar. Hal ini dikarenakan berkembangnya retorika sebagian kaum muslim yang menekankan supremasi laki-laki atas perempuan.

Seperti seberapa banyak dari kita yang tahu bahwa seorang perempuan lah yang mendirikan Universitas pertama di dunia?
Ialah Fatimah Al-Fihri, lahir di Tunisia pada tahun 800 M, merupakan sosok perempuan keturunan bangsawan, kaya dan memiliki strata sosial yang tinggi. Ia juga adalah perempuan yang cerdas dan haus akan ilmu pengetahuan, baik ilmu agama, astronomi maupun sastra. Dia adalah putri dari seorang saudagar kaya nan sukses dari Tunisia yang kemudian berimigrasi ke Fes, Maroko, Muhammad Fihri. Selain Fatimah, Muhammad Fihri memiliki putri bernama Maryam. Keduanya menorehkan sejarah yang baik. Fatimah dan Maryam memiliki visi, misi, dan semangat yang sama, yakni memajukan masyarakat di wilayah tersebut.

Hasil pendidikan dari orang tuanya membuat Fatimah dan saudaranya, Maryam ingin memberikan sesuatu kepada umat. Mereka menjalin hubungan dengan masyarakat tanpa memandang kelas sosial. Sebagai langkah awal, mereka membentuk sebuah komunitas studi. Fatimah menyadari pentingnya memiliki pusat-pusat studi keagamaan untuk menjaga pengetahuan Islam dan mengembangkan masyarakat intelektual. Untuk mencapai hal-hal tersebut, Fatimah rela menyumbangkan harta warisan orang tuanya. Ia memutuskan untuk menggunakan harta mereka dengan membangun masjid dan sekolah bagi masyarakat setempat. Fatimah membangun masjid Al-Qarawiyyin (terkenal juga dengan julukan Masjid Jami’ asy Syurafa’) dan Maryam membangun masjid Al-Andalus. Keduanya mempunyai posisi dan peran penting dalam penyebaran Islam di Maroko dan Eropa saat itu.

Di tangan Fatimah, proses pembangunan masjid yang berdiri pada masa pemerintahan Dinasti Idrisiyah pada bulan Ramadhan 245 H (859 M) berjalan dengan baik. Menurut sejarawan Maroko, Abdelhadi Tazi, Fatimah berpuasa selama pembangunan berlangsung. Seluruh biayanya berasal dari kantong pribadinya.
Bahkan, ia tak ingin mengambil material dari orang lain. Pasir dan air sebagai material pokok diperoleh di lokasi tempat masjid berdiri tegak. Fatimah memerintahkan para pekerja agar menggali sedalam-dalamnya untuk mendapatkan pasir sehingga tidak mengambil hak orang lain. Seperti yang dicatat oleh sejarawan Tunisia, Hassan Hosni Abdelwahab dalam buku Syahirat Tunisia.

Pada mulanya Al-Qarawiyyin melakukan aktivitas diskusi di lingkungan masjid. Selain menjadi tempat ibadah masjid Al-Qarawiyyin digunakan sebagai tempat untuk membahas pengembangan politik. Materi yang diajarkan dan dibahas dalam diskusi beragam, bukan hanya perihal agama seperti studi Al Quran dan fikih, tetapi juga mengajarkan tata bahasa, logika, kedokteran, matematika, astronomi, kimia, sejarah, musik dan geografi.
Sejak itulah, al-Qarawiyyin mengundang ketertarikan para sarjana dan cendekiawan muslim. Kajian ilmu sering berlangsung di sana. Penuntut ilmu pun berdatangan dari penjuru Maroko, negara-negara Arab, bahkan penjuru dunia. Universitas ini mengembangkan sejumlah disiplin keilmuan seperti agama, tahfizzh al-Qur’an, bahasa Arab, matematika, musik, kimia, hukum, sufisme, kesehatan, astronomi hingga politik. Dalam waktu yang singkat, Fez mampu bersanding sejajar dengan pusat ilmu pada masa itu, yaitu Cordova dan Baghdad.

Al-Qarawiyyin yang sekaligus menjadi madrasah tersebut memainkan peran utama dalam menyebarkan cahaya pengetahuan dan tonggak untuk pertukaran budaya antara peradaban Islam dan Eropa.

UNESCO menetapkan bahwa Al-Qarawiyin merupakan universitas pertama di dunia, 100 tahun sebelum Universitas Al-Azhar (975 M) di Mesir muncul, 200 tahun sebelum Universitas tertua di Eropa, Universitas Bologna di Italia (1088 M) dan Universitas tertua di Inggris, Oxford (1096 M) dan 800 tahun sebelum “Athena zaman kita”, Universitas Harvard di Amerika Serikat (1636 M).

Universitas ini menghasilkan para pemikir ternama. Ada pakar matematika Abu al-Abbas az-Zawawi, pakar bahasa Arab dan seorang dokter Ibnu Bajah, serta pemuka dari Mazhab Maliki, Abu Madhab al-Fasi. Ibnu Khaldun, sosiolog tersohor itu konon juga pernah belajar di kampus ini. Al-Qarawiyyin juga merupakan pusat dialog antara kebudayaan Barat dan Timur. Seorang filsuf Yahudi Maimonides (Ibnu Maimun) belajar al-Qarrawiyyin di bawah asuhan Abd al-Arab Ibnu Muwashah. Demikian pula, al-Bitruji (Alpetragius).
Peran perempuan dalam perkembangan peradaban Islam kala itu amat besar. Perempuan banyak mengambil peran di berbagai bidang; agama, pendidikan, politik, dan lainnya. Atas kontribusi para muslimah tersebut pula, peradaban Islam dapat maju. Fatima Al-Fihri dengan karya bangunannya Al-Qarawiyin adalah salah satu dari banyak kesaksian tentang bagaimana seorang perempuan Muslim berkontribusi pada umat manusia yang mungkin tidak lagi disadari oleh banyak orang saat ini. Berharap banyak ke depannya, seorang Muslimah dapat andil lebih banyak dalam melestarikan budaya keislaman.

*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora, Jurusan Bahasa Arab UIN Jakarta

83 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *