Surat Kecil Untuk Rektor Di Tengah Pandemi

Rian Fahardhi

Kepada Yth. Rektorku tercinta, atau yang merasa tersinggung karena tulisan ini, saya harap jangan mudah tersinggung, bukan cuma kamu yang punya perasaan di bumi ini.

Assalamu’alaikum wr.wb,

Halo bu, bagaimana kabarnya? Semoga aja selalu sehat ya bu di tengah pandemi ini, tentunya kami beribu – ribu mahasiswa – mahasiswimu yang bernafaskan Islam ini pasti selalu mendoakan kesehatanmu. Jangan ke luar rumah ya bu, di luar masih bahaya bisa rentan terkena virus.

Tapi maaf saya bandel bu, saya memberanikan diri untuk ke luar rumah sepekan sekali untuk membeli kuota internet, bahkan akhir – akhir ini karena banyak pertemuan kelas melalui video, kuota internet saya cepat habis, bahkan bisa sampai tiga hari saja sudah habis. Untungnya Ibu saya di rumah sangat baik hati, tak jarang kuota internet nya juga saya pakai untuk kebutuhan perkuliahan, meskipun ujung – ujungnya juga marah karena boros hehe, semoga Ibu saya selalu diberi umur panjang. Aamiin.

Saya tinggal di pedesaan bu, provider di sini yang paling kenceng cuma Telkomsel, tapi sayangnya harganya tidak terjangkau. Saya tinggal tepatnya di Indonesia bagian tengah, daerah yang terpencil di Sulawesi Selatan, Kab. Barru namanya, bertetangga dengan tempat kelahiran dan tempat tumbuh besarnya mantan Presiden BJ. Habibie sang Mr Crack, yang diakui oleh bangsa lain tapi tidak diakui oleh bangsanya sendiri. Doakan saya bisa jadi sehebat beliau ya bu, tapi jangan doakan saya jadi Presiden karena saya lebih memilih menjadi manusia bebas yang merdeka, pekerjaan presiden sangat berat seperti pekerjaan Ibu sebagai pemimpin kampus, harus bertanggung jawab untuk mensejahterakan masyarakatnya, kalau Ibu harus bertanggung jawab mensejahterakan mahasiswanya. Sangat berat ya bu, tapi pasti Ibu selalu berusaha untuk mewujudkan semua itu.

Kalau ada waktu, Ibu bisa berkunjung ke rumah saya, saya beri tahu lokasi rumah saya bu, siapa tau Ibu mau kesini buat liburan, kanan kiri rumah saya sawah, depannya ada bengkel motor. Gunung – gunung terasa sangat jelas disini bu, beberapa kilometer dari rumah juga ada Laut yang membentang, tidak ada macet, apalagi polusi udara, jadi udara disini sangat segar. Mantannya Fiersa Besari juga berasal dari sini, hebat bukan. Kebanyakan disini adalah keturunan Bugis, suku yang dikenal suka merantau, saya merantau tidak seperti nenek moyang saya yang terkenal dengan kapal Phinisi nya yang berlayar bebas sampai ujung dunia.

Saya kadang – kadang naik kapal laut yang harganya relatif murah dibandingkan pesawat yang harga normalnya setara dengan UKT 3 di jurusan saya , oh iya bu, UKT saya golongan 4 jadi tidak bisa mengurus bidikmisi karena masih dianggap mampu, padahal penghasilan orang tua saya kurang dari uang kuliah saya yang harus saya bayar tiap semesternya, saya sempat klarifikasi UKT, tetapi ibu – ibu pejabat yang diruangan klarifikasi UKT kemarin malah membanding – bandingkan saya dengan anak ojek yang kurang mampu.

“Cari ilmu itu mahal, kamu masih mampu kesini. Anak ojek aja yang lolos masih sanggup bayarnya”, kata
Ibu – Ibu di ruangan itu 2 tahun lalu.

Mendengar ucapan itu saya langsung berkeinginan menjadi Menteri Pendidikan dan berpikiran untuk memberikan pendidikan gratis bagi seluruh rakyat yang kesusahan, dan tanpa sadar saya sudah keluar dari ruangan yang dingin itu. Tapi Ibu perlu tau saya juga kesusahan waktu itu, semoga aja Menteri
Pendidikan berpikiran seperti saya.

Bayangkan saja bu, setiap saya mau pulang untuk bertemu keluarga saya, saya harus bayar se-harga UKT saya hanya untuk pulang, kadang – kadang iri dengan anak yang berdomisili sekitar kampus karena setiap hari mereka bisa merasakan hangatnya rumah dan keluarga.

tetapi saya tetap memutuskan untuk merantau ke tanah Jawa untuk mencari ilmu di tempat Ibu, tempat perguruan tinggi Islam terbaik se-Indonesia,meskipun sangat asing bagi saya karena saya tidak punya keluarga disini, tapi saya bertekad buat pulang untuk membangun, membangun tempat kelahiran saya sehabis urusan saya di tempat ibu selesai.

Ketika tanggal 2 Maret lalu, Presiden Jokowi mengumumkan kasus positif Virus COVID-19 pertama kali di Indonesia dan ada keputusan dari pihak kampus untuk meniadakan pelajaran tatap muka dengan mengikuti himbauan Social Distancing dari pemerintah. Saya memutuskan untuk pulang ke rumah.

Kemudian beberapa hari kemudian terbit edaran dari fakultas untuk melakukan kuliah seperti hari biasanyaa tetapi dengan sistem yang berbeda, yaitu sistem daring (online). Pada awalnya saya sangat antusias dan sangat bersemangat, kenapa tidak? Kapan lagi kita bisa belajar di rumah sambil rebahan ditemani kopi dalgona.

Hari demi hari berlalu, kuota internet saya perlahan terkuras, terjun bebas layaknya nilai rupiah hari ini. Sesekali iri dengan teman mahasiswa dari kampus lain yang kampusnya mengeluarkan kebijakan dengan memberikan kuota gratis untuk mahasiswanya, bahkan ada kampus yang memberikan pengurangan kuliah di semester ini, bagaimana anakmu ini
tidak iri bu?

Saya tidak ada wifi bu seperti mahasiswa lainya yang di perkotaan, yang bisa mengakses internet dengan cepat dan semaunya karena tidak ada batasan data. Yang setiap hari bisa nonton drama korea melalui situs bajakan yang berusaha di blokir kominfo, bayangkan mahasiswa yang tidak bisa streaming itu bu karena kuota internet yang kami irit untuk perkuliahan, alhasil terpaksa kami menonton drama sinetron indosiar
dengan segala azabnya.

Dan hari yang ditunggu telah tiba, beredar kabar bahwa pihak kampus telah memberikan kuota gratis sebesar 30GB dengan bekerja sama dengan provider telkomsel, mendengar kabar itu betapa senangnya saya bu, karena satu – satu nya provider yang jaringannya cepat cuma Telkomsel disini. Kemudian saya mencoba mengaktifkan kuota gratis itu yang
diberikan oleh pihak kampus.

Bu? Hati saya langsung patah setelah mengetahui hal ini, sebelas dua belas ketika diputusin dengan alasan mau fokus UN, untungnya UN ditiadakan tahun ini jadi tidak ada yang sakit hari karena itu. Ternyata kuota gratis yag diberikan pihak kampus sebesar 30GB itu hanya bisa diakses untuk kebutuhan akademik kampus, seperti cek IPK, cek mata kuliah, dan kebutuhan pemira yang selalu di salah gunakan.

Bukannya tidak bersyukur, tapi saya rasa tidak butuh paket 30GB untuk cek nilai yang terlanjur merah semester lalu itu, saya juga tidak sudih buat melihatnya, apalagi hanya untuk cek mata kuliah , paket yang goceng saja sudah cukup sebenarnya bu.

6 April kemarin, tepatnya seminggu yang lalu telah beredar surat perintah dari Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama yang pastinya ditujukan kepada Pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri se- Indonesia. Dengan perihal untuk mengurangi UKT/SPP mahasiswa minimal sebesar 10 persen akibat COVID-19

Tetapi sampai sekarang, kami belum mendengar kebijakan Ibu terkait hal ini, saya hanya meminta untuk berlaku adil saja bu, karena ibu tentunya seorang terpelajar. Seperti katanya Pram di buku nya yang berjudul bumi manusia “seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”

Semoga Ibu selalu sehat selalu

Karena kalau Ibu sendiri sakit, siapa yang menjaga kampus dari pejabat yang haus harta dan kekuasaan itu bu, semoga saja Ibu tidak terlibat dalam permainan setan itu.

Kalau Ibu juga sakit nanti tidak ada yang menegur kami layaknya Ibu sendiri ketika sedang turun aksi karena tidak setuju kebijakan Ibu, tapi jarang juga sih melihat Ibu ketika kami turun aksi di depan rektorat, karena yang menyambut, kalau bukan wakil rektor pasti mereka pasukan baja hitam yang selalu setia menjaga kampus tiap malam.

Bukan saya membenci Ibu, tapi malah sangat peduli dengan kampus tempat Ibu bekerja dan tempat saya belajar yang suatu saat akan jadi lebih hebat dari ibu, oh iya saya juga mencintai salah seorang mahasiswi Ibu, minta restunya ya bu, hehe

Kira – kira surat kecil untuk Ibu segini saja, saya juga tidak tahu Ibu mau membaca surat kecil yang isinya sambatan ini. Tetapi dibalik ini saya mencoba mengingatkan Ibu, bahwa ada hak – hak kami didalam instistusi ini yang harus kita dapatkan, bukan ketika kita meminta hak kami, kampus terdiam tidak mendegarkannya sama sekali, mahasiswa pun hanya menunggu, menunggu dan menunggu tanpa kepastian yang jelas.

Surat kecil ini tidak berisi tuntutan apa – apa kok bu, cuman saya butuh mengekpresikan kegelisahan saya melalui tulisan ini. Atas perhatian Ibu, saya ucapkan terima kasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb

*Penulis adalah seorang Jurnalis Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, HMI Komisariat Komfakda)

1097 Views

1 Comment

  1. Hi! You are not alone. Kita doakan bersama-sama semoga kesulitan ini segera berakhir. Keadilan tetap ditegakkan. Terimakasih sudah menyuarakan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *