Pandemi Covid-19, Sebuah Kesabaran Ekstra Tahun 2020

*Deny Pratama

Banyak orang yang masih pro-kontra antara kebijakan dari pemerintah, karena latar belakang ekonomi, agama dan lain-lainnya. Masyarakat menengah ke bawah memang sudah memiliki setumpuk masalah dengan pemerintah yang membuat mereka harus ekstra bersabar di tahun 2020, dengan permasalahan-permasalahan yang timbul.
Entah salah apa orang-orang Indonesia kepada tahun 2020, hingga ia tak henti-hentinya menggoda dan mengetes kesabaran rakyatnya. Padahal usianya baru menginjak empat bulan, namun sudah membuat ulah di mana-mana. Membuat masyarakat pontang-panting, ketakutan tak jelas.

Untung saja bukan orang, kalau benar orang, mungkin nasibnya seperti maling yang tertangkap basah – diarak ke alun-alun untuk dibakar hidup-hidup – saking marahnya. Tapi untungnya dia bukan orang, jadinya hal itu takkan terjadi.

Eh, kok ini malah main untung-untungan? Kebiasaan.

Saya kasih tau ya, Bagaimana orang tak kesal ataupun marah, Juru Bicara Pemerintah berkata,

“Orang kaya melindungi yang miskin, agar bisa hidup dengan wajar dan yang miskin melindungi yang kaya agar tidak menularkan penyakitnya, ini menjadi kerja sama yang penting”.

Apa tidak salah dengar!?, apa-apaan coba!?.

Si orang kaya berkata.

“ Nyari duit susah Pak! Enak aja bilang bantu-bantuin”.

Tak mau kalah si orang miskin pun juga berkomentar dengan lebih kasar.

“Seenak jidat aja lu ngomong, emang penyakit cuma datang dari orang miskin? Main sekate-kate aja Lu”.

Kok malah ribut-ribut ini?, tidak tahu apa lupa?, lagi social distancing malah ribut!.

Memang yang bikin masalah dan perbincangan hangat sekarang adalah “Corona” dengan penularannya yang cepat dan banyak menelan korban jiwa di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, membuat orang harus waspada di setiap waktu. Sehingga pemerintah membuat aturan social distancing, kepada masyarakatnya.

Eh engggak ding, sudah ganti ke physichal distancing.

Semua aktivitas yang sudah ada atau sudah terencana gagal total. Pedagang kaki lima merintih kelaparan, pemudik yang mau mudik pun menangis karena tidak bisa mudik dengan gratis. Bagaimana bisa Indonesia sekacau ini?.

Eh, salah lagi ding, memang sudah kacau sih dari dulu hehe.

Semua orang ketakutan dan mengurung diri, dengan menutup pintu yang artinya tidak menerima tamu. Terkecuali bagi yang membawa sate madura, nasi padang, gorengan dan makanan lainnya, terkhusus mahasiswa yang sedang kelaparan akibat tidak bisa keluar dari tempat kos-nya.
Virus kok ditakutkan, padahal kita semestinya harus takut jika masjid-masjid dan peribadatan lain ditutup!.

Takut kepada virus? tentu tidak!. Tetapi kita harus waspada dan berhati-hati terhadap virus ini. Tentu tidak masalah jika Kita berhati-hati dan selalu waspada?.

Perihal masalah masjid-masjid ditutup, kan sudah ada hadistnya:
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Jika kalian mendengar ada wabah di suatu wilayah janganlah kalian memasuki wilayah tersebut dan jika kalian sedang di wilayah yang terkena wabah tersebut janganlah kalian mengungsi.” [HR Bukhari-Muslim].

Jadi, di zaman Nabi Muhammad sudah ada anjuran untuk lockdown, bila wabah yang mengerikan melanda. jadi hal itu, sudah ada pasalnya, kita percayakan semuanya kepada para ulama yang ada, yang lebih tahu banyak tentang agama dari pada kita.

Namun di samping itu, para pelajar ataupun mahasiswa juga merasa resah akibat pandemi virus ini. Sejak himbauan pemerintah untuk mengganti sistem pembelajaran tatap muka/langsung ke pembelajaran online/jarak jauh, untuk mencegah penyebaran virus Corona, menambah permasalahan baru bagi kaum pelajar.

Pada awalnya, siswa maupun mahasiswa merasa senang, karena tidak usah ke sekolah ataupun kampus (hore). Namun, tugas yang seabrek bagaikan pepatah “hilang satu, tumbuh seribu” tugas-tugas itu selalu bermunculan dan tak ada habisnya.

”Ingin rasanya saya pites yang namanya Corona itu.” dengan geramnnya.
Sehingga, tujuan awal diubahnya sistem pembelajaran tatap muka atau langsung ke pembelajaran online atau jarak jauh adalah untuk menghindari penyeberan virus. Eh, ternyata pembelajaran ini yang membuat klenger murid-muridnya dengan tugas yang tak manusiawi.

Memang, pada tahun 2020 ini, kita harus ekstra bersabar dalam menghadapi masalah-masalah yang timbul ini. Jika tidak, kita sendiri yang akan matibkarena terkena serangan jantung, akibat marah-marah terus.

Jadi perkuat lagi kesabaran dan tetap produktif walau di rumah aja, sekalipun tanggal merah. Karena menurut Dosen saya, Jamal D. Rahman.

“Tanggal merah, tetap kuliah”

*Penulis adalah Kader HMI Komisariat Tarbiyah, dan Kader Lapmi HMI Ciputat

139 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *