Dedi Ibmar : Tuhan Tidak Mengurus Hal yang Remeh

Padang, ruangonline.com – Forum diskusi Pojok Inspirasi Ushuluddin (PIUSH) menggelar kajian via aplikasi zoom dengan tajuk “Mengislamkan Corona, Melihat Corona dari Perspektif Islam” pada jam 19.00, Jumat, (14/4).

Diskusi dimulai oleh pembicara pertama, Muflih Hidayat. Menurut Muflih, merujuk kepada makna harfiah “Bala,” maka hidup ini adalah ujian, baik ketika ada wabah, maupun tidak. Lalu Muflih mengutip Q.S. Al-Maidah : 48 sebagai contoh.

“Ayat itu menerangkan bahwa kebjinekaan itu adalah ujian, karunia itu sendiri pun juga termasuk ujian. Artinya kesenangan itu adalah ujian juga. Termasuk setelah wabah ini selesai, kehidupan normal adalah ujian juga.” Kata Muflih

Pembicara selanjutnya, Dani Ramdani. Menurut Dani, upaya kita untuk melakukan phisycal disctancing, memakai masker, dan segala macamnya sudah benar sesuai anjuran Ibn Sina, hanya saja cara penanganan virus corona ini harus diselesaikan dari akarnya, seperti penjelasan Ibn Sina dalam kitab Qanun al-Tibb.

“Sekarang pemerintah kita terlalu sibuk mengurusi hilir, seperti economi effect, bagi-bagi sembako, dan sebagainya, padahal Ibn Sina menyuruh untuk mendiagnosa virus ini dulu, baru memberikan obat. Nah, kegagalan pemerintah adalah dalam mendiagnosa sumbernya ini.” Jelas Dani.

Sesi materi ditutup oleh Dedy Ibmar. Menurut Dedy, Tuhan tidak mengurusi hal-hal yang remeh-temeh, sebagaimana yang dijelaskan dalam teori Emanasi Ibn Sina dan Al-Farabi. Akan tetapi, alam ini diciptakan oleh Tuhan secara mekanistik, yang bisa diperhitungkan secara matematis, sehingga apa yang terjadi di dunia ini adalah tanggung jawab makhluk.

“Karena Tuhan tidak mengurusi yang remeh-temeh, maka corona ini adalah ulah manusia sendiri. Maka penyelesaiannya ya manusia juga yang bertanggungjawab. Maka peran Tuhan kalo merujuk kepada teori Imanuel Kant adalah sebagai garansi bagi orang yang menderita.”Ungkap Dedi.

“Lalu tugas manusia adalah berdo’a. Berdo’a bukan untuk mengubah apa yang ada tertulis di lauhul mahfuz, karena lauhul mahfuz memang tidak bisa diubah lagi. Tapi berdo’a adalah untuk menghipnotis, atau mensugesti diri dengan harapan-harapan yang kita gantungkan kepada Tuhan.” Tutup Dedi.

Diskusi berjalan relatif hangat, karena ada banyak peserta yang ikut memberikan perspektifnya dan ikut bertanya. Diskusi belangsung dari jam 19.47 sampaai 22.54 WIB. (Ghufron).

333 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *