5 Tokoh Emansipasi Wanita di Indonesia Selain Kartini

Ciputat, ruangonline.com Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini merupakan tokoh emansipasi yang menginspirasi kaum wanita di Indonesia masa kini. Semboyan “habis gelap terbitlah terang” tak habis terucap pada tanggal 21 April sebagai peringatan hari Kartini.

Ternyata, masih banyak tokoh emansipasi wanita di Indonesia selain Kartini yang mungkin belum kamu tahu.

Berikut tokoh-tokoh emansipasi wanita selain Kartini yang telah dirangkum oleh ruangonline.com.

Maria Josephine Catherine Maramis

Wanita kelahiran Sulawesi Utara tersebut dikenal sebagai Pahlawan Nasional Indlnesia karena usahanya untuk mengembangkan keadaan wanita di Indonesia pada abad ke-20.

Berawal dari pemilihan sebuah badan perwakilan di Minahasa pada tahun 1919 yang anggotanya hanya dapat dipilih oleh laki-laki, Maramis berusaha supaya wanita juga dapat memilih wakil-wakil yang duduk dalam perwakilan tersebut.

Usahanya berhasil pada tahun 1921 di mana keputusan yang datang memperbolehkan wanita untuk memberikan suara dalam pemilihan anggota.

Raden Dewi Sartika

Lahir dari keluarga Sunda ternama, ia menerima pendidikan sesuai dengan budaya Sunda oleh pamannya, meskipun sebelumnya ia sudah menerima pengetahuan budaya barat.

Ketika masih kanak-kanak, ia selalu bermain peran menjadi seorang guru seusai sekolah bersama teman-temannya. Akhirnya, pada 16 Januari 1904, ia membuat sekolah yang bernama sekolah Isteri di Pendopo Kabupaten Bandung. Sekolah tersebut kemhdian direlokasi ke Jalan Ciguriang dan berubah nama menjadi Sekolah Keoetamaan Isteri pada tahun 1910.

Dua tahun setelahnya sudah ada sembilan sekolah yang tersebar di seluruh Jawa Barat, lalu berkembang menjadi satu sekolah diap kabupaten pada tahun 1920. Sekolah twesebut berganti nama menjadi Sekolah Raden Dewi.

HR. Rasuna Said

Seperti Kartini, ia juga memperjuangkan adanya persamaan hak antara pria dan wanita.

Lahir sebagai keturunan bangsawan minang pada tanggal 14 September 1910, ia langsung dikirim sang ayah untuk melanjutkan pendidikan di pesantren Ar-Rasyidiyah seusai menamatkan pendidikan Sekolah Dasar (SD). Saat itu ia merupakan satu-satunya santri perempuan. Ia dikenal sebagai sosok yang pandai, cerdas, dan pemberani.

Rasuna Said sangat memperhatikan kemajuan dan pendidikan kaum wanita. Ia berpendapat bahwa kemajuan kaum wanita tidaj hanya bisa didapat dengan mendirikan sekolah, tetapi harus disertai perjuangan politik.

Rasuna Said juga dikenal sebagai penulis. Ia pernah menjadi pemimpin redaksi sebuah majalah pada tahun 1935. Tulisannya yang tajam membuat polisi rahasia Belanda (PID) mempersempit ruang gerak Rasuna dan kawan-kawan.

Nursyahbani Katjasungkana

Wanita kelahiran 7 April 1955 ini merupakan salah satu aktivis emansipasi wanita di Indonesia. Ia merupakan Sekretaris pertama Jenderal KPI (Koalisi Perempuan Indonesia) untuk keadilan dan demokrasi pada tahun 1998-2004.

Nursyahbani ikut membangun gerakan perempuan sebelum dan sesudah reformasi. Ia juga turut andil dalam pendirian Koalisi Perempuan Indlnesia (KPI) dan Lembaga Bantuan Hukum untuk perempuan korban kekerasan (LBH APIK) yang sekarang sudah ada di 13 wilayah di Indonesia.

Surat-surat Kartini juga memberikan semangat bagi Nursyahbani untuk mempeejuangkan hak-hak perempuan Indonesia.

Syarifah Nawawi

Syarufah merupakan anak ke empat dari pasangan Nawawi Soetan Makmoer, sekrang guru terkenal di Sekolah Raja (Kweekschool) Bukittinggi.

Bagi ayahnya pendidikan untuk anak sangatlah penting. Nawawi memasukan Syarifah ke Europeesche Langere School (ELS), sekolah Belanda di Bukittinggi lalu setelah tamat ia melanjurkan pendidikannya di Kweekschool.

Ia berjuang menajukan pendidikan wanita dan anak-anak dengan masik ke Fujinkai, suatu organisasi wanita binaan Jepang. Pada tanggal 11 Juli 1955 ia bersama teman-temannya mendirikan Yayasan Panti Wanita Trishla PERWARI.

Syarifah tak pernah berhenti mengabdi pada masyarakat melalui pendidikan dan memberikan pengajaran kepada anak-anak perempuan.

Selain beberapa nama tersebut, masih banyak Kartini-kartini masa kini yang turut berjuang dalam emansipasi wanita di Indonesia.

Kita sebagai wanita Indonesia masa kini harus menjaga apa yang sudah diperjuangkan oleh tokoh-tokoh wanita
Pada zaman dulu. (Aul)

1197 Views

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *