Terisolasi di Kampus Sendiri

*Nur Ahmad Dzulfikar

Kata terisolasi sendiri merupakan imbuhan ter dari kata isolasi yang artinya pemisahan dari suatu hal lain, keadaan terpencil, penyekatan terhadap suatu hal, pemisahan suatu kelompok. Secara umum berarti suatu keadaan dimana kita tidak bisa melakukan apa apa di tempat yang terpencil dan terpisah dari kelompok lain.

Hal ini dapat diilustrasikan pada saat ini, khususnya pada keadaan kampus UIN Jakarta. Dimana berbagai kebijakan yang kurang berperan dalam proses pendidikan di dalam nya, mahasiswanya seperti berada di tempat terpencil dan berbeda dengan kelompok (mahasiswa) di kampus lain, begitupun dari kurangnya transparansi dalam proses penentuan Uang Kuliah Tunggal (UKT), tidak adanya penyeimbangan antara pemasukan yang dibayarkan oleh mahasiswa nya dengan fasilitas yang ada di kampus. Yang seharusnya menjadi penunjang dalam proses belajar mengajar di kampus hanya sekadar pemanis diluarnya saja, faktanya sangat jauh dengan realita yang terjadi di dalamnya.

Kalau mengacu pada teori perenialisme bahwa dalam dunia yang tidak menentu dan penuh kekacauan serta membahayakan tidak ada satu pun yang lebih bermanfaat daripada kepastian tujuan pendidikan, serta kestabilan dalam perilaku pendidik. Teori yang lahir pada abad kedua puluh ini singkatnya berpendapat bahwa pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya pada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. Tetapi seolah tak melihat atau mendengarkan keluhan keluhan yang ada, pihak kampus seakan menghiraukan dengan keadaan yang terjadi didalam kampusnya sendiri. Puncaknya pada saat proses kuliah online yang terpaksa dijalankan sebagai bentuk pencegahan dari meluasnya wabah Covid-19 ini, mahasiswa dan dosen harus sama sama beradaptasi dalam menghadapi keadaan yang seperti ini, tetapi tidak dibarengi dengan pihak kampus yang seolah olah melepas tangan membiarkan dosen dan mahasiswa nya terjebak dengan fenomena proses perkuliahan online yang berantakan hal ini berdasarkan pada keluhan keluhan yang digaungkan oleh mahasiswa dan beberapa dosen.

Seperti hal nya terisolasi dari dunia luar,keadaan yang amat berbeda dengan kampus lainnya, kebijakan yang tak karuan. Mahasiswa mulai dipusingkan dengan proses perkuliahan nya dibebankan dengan tugas tugas yang diberikan, belum lagi dalam hal pemenuhan kebutuhan internet yang mana kita tau keadaan dari setiap mahasiwa nya berbeda dalam hal kemampuan ekonomi nya. Begitupun dengan beberapa dosen yang mengeluhkan kurangnya support dari pihak kampus yang ikut menyeret mahasiswa nya. Seharusnya pihak kampus khususnya rektor sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dapat menentukan kebijakan yang dapat mengakomodasi mahasiswa dan dosen nya agar terjadi keseimbangan dalam proses perkuliahan agar tidak saling salah menyalahkan dan keluarnya keluhan dari setiap mahasiswa dan dosen nya.

Kemudian beberapa minggu yang lalu, keluar Surat Keputusan (SK) kenaikan UKT pada angkatan 2019/2020. Tidak tahu karena apa, kabar ini seolah olah menjadi seperti sudah jatuh tertimpa tangga pula, sudah diberatkan dan dipusingkan dengan perkuliahan online ditambah dengan harus memikirkan bagaimana caranya harus membayar uang kuliah di semester selanjutnya. Bukan tanpa alasan saya berpendapat seperti ini tetapi ini berdasarkan yang saya dan teman-teman alami. Seharusnya ada transparansi dalam penentuan golongan dan kenaikan UKT ini, apakah pihak kampus mempunyai data berapa kepala keluarga yang hidup menengah kebawah dari setiap daerah nya, sehingga dapat lebih efektif dan sesuai dengan penentuan golongan UKT ini dan menjadi lebih tepat sasaran. Lalu perihal kenaikan UKT juga kurang sesuai dengan fasilitas dan pemenuhan hak yang diberikan kepada mahasiswa nya.

Kami sebagai mahasiswa berharap agar pihak kampus dapat mendengarkan dan memperhatikan aspirasi yang disuarakan oleh mahasiswa nya begitupun dengan beberapa dosen. Agar sama sama nyaman dalam menjalani proses belajar mengajar didalan kampus tercinta ini.

*Penulis Adalah Mahasiswa Studi Agama-agama dan Kader HMI Komisariat Fakultas Ushuluddin dan Filsafat

129 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *