Dilema Dakwah Di Tengah Wabah

*Rika Salsabila

Pemanfaatan teknologi semakin nyata saat ini, tidak dapat dipungkiri hadirnya internet semakin dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap kegiatan sosialisasi yang meliputi berbagai aspek kehidupan dipastikan memiliki peran media sosial di dalamnya. Sampai membuat pengaruh yang bersifat masif dalam kehidupan seseorang. Seseorang yang awalnya kecil bisa menjadi besar dengan media sosial, atau sebaliknya. Bagi masyarakat khususnya kalangan remaja, media sosial sudah menjadi candu yang membuat penggunanya tiada hari tanpa membuka media sosial. Lantas, Islam adalah agama yang “rahmatan lil alamin”. Sehingga Islam harus disebarluaskan kepada seluruh umat. Wabah Covid-19 sudah pada taraf sangat mengkhawatirkan karena telah menyebar ke 34 provinsi di Indonesia, selain itu tingkat kematian akibat virus corona di Indonesia sangat tinggi, mortality rate di Indonesia mencapai 8-9%, jauh diatas rata-rata global. Pemerintah telah berupaya keras untuk mengurangi penyebaran virus ini melalui berbagai kebijakan, termasuk menghimbau masyarakat untuk tetap tinggal di rumah, meliburkan sekolah dan kantor, serta yang terakhir memberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dilansir dari TechCrunch (27/3), penggunaan sosial media mengalami peningkatan tajam, yaitu 76% yang dilakukan oleh usia 18-34 tahun. Hal ini sebagai wujud adaptasi manusia dalam kebijakan di tengah pandemi.

Memanfaatkan hal tersebut, insan manusia dengan fitrah-nya telah melakukan dakwah menggunakan metode kekinian, sebagai bentuk penerapan kewajiban ilmu untuk diamalkan begitu pula kewajiban berilmu. Sebagai muslim yang beriman, urgensi dakwah memiliki keutamaan bahkan hanya satu ayat sekalipun. Apalagi di era globalisasi yang serba memberi kemudahan, banyak metode, serta dukungan media yang dapat menjadi metode alternatif melaksanakan dakwah. Hadirnya media-media kekinian seperti sosial media, podcast dan sebagainya mempercepat penyebaran aktivitas dan materi dakwah. Berbeda ketika pada zaman Rasulullah dan sahabat media dakwah sangat terbatas, hanya berkisar pada dakwah qauliyah bi al-lisan dan dakwah fi’liyah bi al-uswah, apalagi terdapat hambatan-hambatan rumit pada saat itu.

Kendati demikian, dakwah harus dilakukan dengan metode benar dan juga tepat, seperti berisi materi yang tidak merujuk sebuah ke-mudharatan yang hakiki. Tidak merujuk terhadap kekerasan, pemaksaan, bahkan melanggar nilai-nilai kemanusiaan menjadi fokus utama setiap dakwah yang akan disampaikan. Kemuliaan dalam dakwah harus menjadi berarti bagi sang penyampai dan penerima. Saat ini, fokus dakwah dengan pemanfaatan sosial media memiliki imbas terhadap generasi muda atau generasi millenial penerus bangsa yang lahir dalam rentang usia 20 tahun terakhir, karena tumbuh dan besar dalam dominasi budaya digital yang erat bersinggungan dengan penyebaran pola konsumsi dan gaya hidup serba instan. Tantangan berdakwah Islam bukan lagi memiliki hambatan berbentuk fisik layaknya di masa Rasulullah maupun sahabat. Tetapi, berupa kekerasan yang bersifat verbal maupun non-verbal bersumber dari ketikan setiap pengguna media tersebut. Ujung-ujungnya membawa isu panas berisi Radikalisme dan Ekstremisme.

Dilema Sosial Media dalam Berdakwah

Pemanfaatan sosial media dianggap tepat bagi invidu yang lahir dalam dekade-dekade terakhir, survey BPS (Badan Pusat Statistik) di tahun 2017 mengungkapkan bahwa 79,92 persen masyarakat Indonesia memilih media sosial sebagai sumber informasi utama dalam kehidupan sehari-hari, disusul media lainnya.

Perbedaan pendapat justru makin kontras ketika golongan tua menganggap bahwa dakwah menggunakan sosial media tidak dapat disamakan seperti pembelajaran santri dengan kyai serta ustad-ustadnya. Dilema sosial media menjadi kongkret ketika sebuah konflik terjadi karena metode dakwah yang salah. Bagaimana pada tahun 2017 tersebarnya video mahasiswa salah satu Perguruan Tinggi Negeri yang mendeklarasikan khilafah di tengah dakwah, beberapa ceramah ustad terkenal yang direkam dan disebarluaskan mengalami ‘perubahan’ yang berakibat cemoohan, gerakan kebencian dari publik terhadap tokoh agama tersebut. Peristiwa diatas merupakan sebagian kecil dari efek berdakwah yang memanfaatkan kemajuan teknologi saat ini. Pada mulanya ditujukan agar masyarakat dari berbagai kalangan dapat memahami ajaran ciptaan-Nya secara maksimal sekaligus dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan efisien karena mudahnya mengakses media sosial. Namun pada realitanya, justru menimbulkan kontroversi dari multitafsir asal-asalan, serta provokasi pihak yang tidak bertanggung jawab dalam pemanfaatan media digital. Apakah berdakwah menggunakan sosial media itu salah? tentu tidak, selama tidak keluar dari garis-garis yang dimuat dan tetap mengingat konsep komunikasi Islam secara menyeluruh. Apabila hal diatas dibiarkan secara terus menerus, akan berakibat pada munculnya gerakan-gerakan baru yang berdakwah seakan-akan mengatasnamakan Islam, dan berpotensi merusak moral generasi muda melalui penanaman ideologi-ideologi yang mengarah pada bentuk-bentuk ekstrimisme, radikalisme, dan terorisme serta menimbulkan perpecahan dalam bangsa Indonesia.

Sebagai mahasiswa Islam yang berwibawa dan afdal terhadap hak, solusi yang dapat ditawarkan mengenai disfungsi media terhadap dakwah islam adalah pembaharuan konsep dakwah Islam, yang berisi semangat dan optimisme menuju kemajuan yang tetap dalam garis syariat. Bukan lagi berisi konsep “Islam anti perubahan” namun, terdapat prinsip-prinsip jihad fi-sabililah yang tak boleh dilanggar meliputi perjuangan dalam menjalani kehidupan. Agus Affandi dalam “Gerakan Sosial Intelektual Muslim Organik dalam Transformasi Sosial” mengungkapkan bahwa, manusia berintelektual di pendidikan tinggi termasuk dalam kategori intelektual organik, yaitu manusia yang mempunyai fungsi sebagai artikulator dan perumus gagasan, ide, konsep atau pemikiran baru demi pemecahan masalah yang dihadapi masyarakat. Seperti yang kita ketahui, masalah di dalam masyarakat dalam pemamfaatan media sosial adalah tidak dapat menyaring informasi benar maupun salah, begitu pula pemuda-pemudi Islam yang masih mempermasalahkan hal-hal klasik sehingga menimbulkan sifat statis diantaranya.

Tuntutan terhadap mahasiswa Islam
perwujudan syariat yang belum maksimal bahkan membuat masyarakat mudah terpecah belah, dan saling menjatuhkan. Maka, sudah saatnya menempatkan media sosial tak lebih dari sekadar alat berdakwah, bukan tujuan. Media sosial sebagai wasîlah, bukan ghâyah. Bila diibaratkan, sebagaimana pisau yang bermanfaat bila digunakan memasak dan merugikan bila dipakai untuk membunuh orang lain, begitu pula media sosial. Dalam dirinya terkandung potensi positif tapi sekaligus negatif. Semakin meningkatnya pengguna media sosial dari hari ke hari tak menjamin semakin berkualitas dari segi pemanfaatannya. Kampus islam khususnya, menjadi tempat bagi manusia yang mempunyai keseimbangan dalam tiga hal, yakni iman, ilmu dan teknologi. Tiga hal tersebut dapat dijadikan senjata bagi kalangan mahasiswa dalam memerangi kemerosotan di berbagai sendi di Indonesia, khususnya merosotnya moral/akhlak akhir-akhir ini. Mahasiswa Islam dituntut kembali menggunakan akalnya, sikapnya dan perwujudan kritis-nya terhadap aktivitas dakwah baik di dunia maya maupun nyata, dan muncul sebagai ‘agent of change’. Sehingga, masyarakat awam dapat merasakan fungsi bukan disfungsi dari media tersebut.

Perhatikan Strategi

Imam Abu Hamid bin Muhammad al-Ghazali dalam kitab Bidâyatul Hidâyah menjelaskan bahwa lisan manusia terdiri dari dua jenis, yakni lidah yang berada di dalam mulut dan lidah berupa qalam (pena). Tulisan memiliki fungsi yang mirip dengan pembicaraan. Qalam dalam konteks hari ini bisa diidentikkan dengan media sosial yang memiliki peran yang sama, yakni memproduksi tulisan yang pengaruhnya bisa negatif maupun positif seperti dalam berdakwah. Aspek sosiologis juga harus diperhatikan dalam strategi dakwah, apalagi menggunakan media massa. Samsul Munir dalam buku Ilmu Dakwah mengungkapkan, “aspek sosiologis sebagai salah satu asas yang harus diperhatikan dalam menjalankan strategi dakwah yang membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan situasi dan kondisi sasaran dakwah. Misalnya politik pemerintahan setempat, mayoritas agama di suatu daerah, filosofis sasaran dakwah, dan sosiokultural sasaran dakwah”. Dengan demikian, sikap bijak sebagai seorang penerima ilmu dalam kehadiran muslim-muslimah dalam berdakwah wajib ditegakan. Tidak terpengaruh situasi, begitupun sang pendakwah, harus tetap di jalan lurus, sesuai kondisi yang bersifat aktual layaknya di tengah pandemi Covid-19.

Media sosial di sini sudah termasuk bentuk ikhtiar untuk menjadi Muslim yang baik. kehadiran media sosial tak lebih dari sebatas wasîlah, perantaran atau alat. Tak menimbulkan kemudaratan kepada pihak lain melalui media sosial adalah sesuatu yang baik. Tapi akan lebih baik lagi bila media sosial memberikan faedah bagi orang lain lewat konten-konten dakwah yang bernilai, tentu berisi ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan. Banyak saat ini, para pendakwah berbobdong-bondong membahas Covid-19 dengan keterkaitan pandemi di masa lampau, serta bagaimana Islam sebagai agama Allah menanggapi hal tersebut. Bukti nyata bahwa dakwah di tengah pandemi menjadi hal bersifat urgent dan sosial media menjadi metode paling tepat untuk berdakwah saat ini.

Maka, marilah bersama-sama bersatu dan kesampingkan pikiran-pikiran negatif terkait sosial media untuk berdakwah. Dari dakwah justru umat menjadi baik, dengan berdakwah umat turut membuat sosial media bersifat positif. Ingat juga pesan KH. Abror sebagai Pengasuh Pesantren Al-Hamidy Banyuanyar, yang berkata bahwa malaikatpun juga selalu update status. Jangan sampai hanya berbekal jari tangan dan pikiran keruh, dalam sekejap saja sudah membuat mudarat bagi pihak lain. Padahal dalam hadits shahih disebutkan bahwa di antara karakter seorang Muslim adalah mampu menjamin saudaranya dari malapetaka tangan dan lisannya. Begitupun berdakwah, jangan sampai diniatkan untuk memperkeruh situasi di tengah Covid-19 melainkan, memberikan ketenangan bagi setiap insan yang hidup di muka bumi ini, waallahualam.

*Penulis Adalah Mahasiswi Jurnalistik Di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

1147 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *