Demokrasi Kedaruratan: Situasi Pandemi Dari Agamben Hingga Harari

*Al-Fath Faqih

Pada kondisi ketidakpastian, umat manusia kini berhadapan dengan sebuah krisis kemanusiaan dari ancaman yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Pandemi Covid-19 mengawali sebuah awal baru yang memutar kompas umat manusia dalam memandang human security. Bahkan dampak yang dihasilkan dapat menjadi krisis terbesar bagi generasi saat ini. Melihat isu Covid-19 menjadi populer sejalan dengan asumsi dan analisa publik yang semakin tersebar dalam berbagai wadah. Gemuruh kahar analisa kini semua ditampilkan dengan visualisasi grafis Covid-19 lengkap dengan pembaharuan data terbaru yang disajikan dengan kuatitatif. Argumen tersebut dapat dilihat dengan dasar ekonomi, kesehatan, hingga politik. Saat ini sekuritisasi tidak lagi dipenuhi dengan wacana keamanan tradisional seperti senjata berlaras panjang atau misil perang, tetapi biopolitics.

Situasi pandemi dengan sistem demokrasi menjadi kombinasi yang mujarab untuk menghasilkan diskursus pada ruang publik. Tidak ada demokrasi lahir tanpa keramaian. Tidak terhitung rasanya para ahli dan filsuf memutar jari telunjuk untuk menunjukkan ramalan bagaimana dunia setelah pandemi dan memberikan gambaran situasi saat ini. Tentu yang masih kita ingat adalah L’invenzione di un’epidemia yang ditulis Giorgio Agamben dan The World After Corona Virus dari Yuval Noah Harari. Kedua tulisan tersebut menjadi sekian dari banyak tulisan yang ramai dibicarakan dalam konteks pandemi Covid-19. Hal tersebut disebabkan bagaimana kedua tulisan tersebut mengambil sisi terdalam dari sebuah kebijakan diambil dan kebijakan berakhir, yaitu manusia sebagai entitas individu.

Pada pertengahan bulan Februari, Agamben menyerang telak bagaimana fenomena sosial saat ini bekerja. Agamben menggambarkan bahwa mekanisme negara bekerja kini menghancurkan sifat alamiah manusia, yaitu kebebasan. Demokrasi bagi Agamben menjadi sebuah norma tanda jalan yang tidak lagi diindahkan sesuai dengan bagaimana fungsinya. Penertiban masyarakat, instruksi hukum, dan larangan berdasarkan keputusan dijalankan secara represif. Situasi chaos adalah lampu kuning dalam demokrasi. Kedaruratan bagi Agamben tidak hanya soal perang dan revolusi angkat senjata, krisis pangan dan minimnya kepastian hidup masyarakat juga dapat menimbulkan keruntuhan sebuah rezim yang berkuasa melalui situasi darurat.

Agamben sekali lagi memperingatkan kepada kita semua bagaimana etika politik dan kebijakan publik dalam penanganan situasi pandemi. Kekhawatiran Agamben adalah bentuk dari terciptanya State of Exception yang mengakibatkan terciptanya sebuah pengecualian tanpa batas yang diciptakan oleh demokrasi itu sendiri. Diagnosa Agamben bukan tanpa alasan, seringkali negara menancapkan tirani melalui media demokrasi. Asumsi Agamben didasari dalam melihat tindakan negara melalui kebijakan yang dikeluarkan. Negara seringkali memberikan politik sembunyi sehingga menghasilkan kebijakan yang tidak tepat sasaran. Argumen Agamben dapat kita lihat dari banyaknya pemerintahan di dunia yang mengambil langkah kebijakan yang lamban dan kurang tepat dalam menangani pandemi. Brazil dan Indonesia misalnya, kedua negara ini cenderung denial dan memberikan kebijakan yang lamban dalam penanganan pandemi Covid-19. Baik Brazil dan Indonesia, sama-sama tidak memberikan perhatian lebih kepada situasi dan krisis kemanusiaan dengan memberikan setiap landasan kebijakan melalui motif dasar ekonomi. Praktik kontrol negara atas kuasa mulai menunjukkan wajah aslinya. Seharusnya negara menganut etos salus populi suprema lex esto (keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi) sehingga politik kemanusiaan dapat terwujud. Gambaran Agamben akan situasi saat ini akan semakin nyata dengan situasi kemanusiaan yang nihil seperti hilangnya stok sembako, panic buying, dan tindakan menyelamatkan diri sendiri.

Nihilnya kemanusiaan ini yang menjadi kekhawatiran besar bagi Yuval Noah Harari dalam tulisannya The World After Corona Virus. Dalam situasi pandemi kedewasaan dan mapannya demokrasi akan diuji. Bahkan bukan hanya bagi negara, wajah kemanusiaan tiap individu akan mulai terlihat dengan situasi ketidakpastian tersebut. Bagi Harari kekhawatiran terbesarmya bukan virus corona itu sendiri. Banyak negara yang memberikan contoh besar bagaimana menjalankan solidaritas yang tidak hanya dilakukan secara nasional, tetapi juga global. Kepatuhan dan kepedulian tiap individu dalam melihat sesame manusia lainnya memberikan bukti besar bahwa negara dengan kemanusiaan yang mapan hanya dijalankan dengan demokrasi yang sehat. Namun, tidak jarang riuh kemanusiaan juga mengarah kedalam situasi yang negatif. Tidak jarang bagi Harari situasi pandemi juga dapa mengubah cara pandang manusia. Isu rasial dan kesenjangan juga dapat terjadi seperti yang dialami Amerika Serikat dengan memberikan counter blaming atas situasi pandemi yang berasal dari Tiongkok. Umat manusia kini dihadapkan pada dua pilihan penting. Pertama, antara pengawasan totaliter dan pemberdayaan warga negara. Kedua, antara nasionalisme yang terisolasi dan solidaritas global. Pada kondisi yang kedua, Harari memberikan kita gambaran bahwa apa yang dilakukan hari ini oleh beberapa negara mengacu kepada ekslusifitas nasional berwajah kemanusiaan dan solidaritas global yang berbasis kepercayaan publik.

Anggap saja bahwa Covid-19 telah memukul semua demokrasi di dunia hingga titik nadirnya. Situasi politik manakah yang kebal terhadap situasi kedaruratan? Mungkin tepat untuk kita semua untuk mempretel segala kemungkinan yang terjadi melalui analisa dan asumsi yang terjadi. Harari sejatinya membongkar semua revolusi industri 4.0 yang saat ini menjadi prioritas utama dan dewa baru bagi setiap negara. Demokrasi dan investasi bagai koin dengan dua sisi yang tidak pernah lepas. Hingga pada situasi pandemi koin tersebut tidak dapat membayar semua nyawa dan kemanusiaan dari korban pandemi. Begitupula Agamben yang telah menjelaskan masalah klasik demokrasi pada hari ini adalah obrolan demokrasi hanya sebatas pembicaraan dalam wacana publik. Skeptisisme Agamben dan Harari didasari dari perundungan atas kecelakaan kebijakan publik dari negara.

Baik Agamben maupun Harari, keduanya sama-sama memandang umat manusia harus bersiap berhadapan dengan krisis terbesar pada generasi saat ini. Gambaran fenomena sosial hari ini bukan lagi hanya soal situasi pandemi dengan Covid-19 melainkan lebih berbahaya dari itu. Ada hal yang sangat berbahaya dan menyebar secara cepat yang dikhawatirkan oleh Harari dan Agamben, yakni wajah manusia setelah Covid-19. Label ‘demokrasi’ kini harus berbarengan dengan kata ‘kedaruratan’. Vaksin terbaik bagi situasi saat ini adalah investasi kemanusiaan. Dengan sebuah keyakinan kita semua akan kembali pulih namun dengan situasi new normal. Sejarawan di masa depan akan melihat situasi saat ini sebagai titik balik. Bagaimana hal-hal baik di masa depan adalah apa yang kita investasikan pada hari ini. Pada akhirnya semua hasil yang lahir baik saat ini ataupun pasca pandemi adalah keputusan politik kita setelah membaca tulisan ini.

*Penulis Adalah Kader HMI Komfisip dan Mahasiswa Hubungan Internasional UIN Jakarta

148 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *