Polemik Sektor Pendidikan di Tengah Pandemik Covid-19

*Farid Abdullah Lubis

Sejak pandemik Covid-19 datang, seluruh kemampuan negara di dunia sedang diuji. Banyak pelajaran berharga yang dapat dipetik dari pandemi ini juga tak sedikit sektor yang terkena dampaknya. salah satunya sektor pendidikan. Pada akhirnya, sektor pendidikan juga mendapat imbasnya sehingga dilaksanakannya PJJ (Pendidikan Jarak Jauh) se-Indonesia.

Belakangan pendidikan di daerah pusat mulai menjalankan kelas daring dengan mudah. Lalu bagaimana dengan PJJ di daerah pelosok? kuota yang cukup mahal seperti pembayaran listrik bulanan dan belum lagi akses internet yang belum tentu menjangkau sekitaran daerah tersebut.

Ini menjadi masalah yang general dikalangan mahasiswa. Dengan kondisi keuangan yang secukupnya, apalagi seperti yang saya tulis diparagraf sebelumnya, bahwa kelas daring ini memang memiliki beberapa pandangan. Jika dilihat dari sisi positifnya, Kuliah daring ini membuat sistem perkuliahan menjadi lebih efisien karena tidak perlu butuh banyak tenaga untuk mengikuti perkuliahan, kemudian juga disini para mahasiswa di hadapkan bagaimana caranya untuk memanfaatkan teknologi yang saat ini terus berkembang.

Tapi jika kita melihat sisi negatifnya, ini bisa menjadi tugas berat bagi para mahasiswa. Hal ini terjadi karena banyak dari kalangan mahasiswa yang kesulitan akibat kuliah online, misal dengan akses internet yang belum memadai sehingga harus pergi kesuatu tempat untuk mendapatkan akses internet yang baik demi kelancaran untuk mengikuti perkuliahan. Juga tak sedikit mahasiswa yang kemampuan ekonominya mengalami kesulitan dimasa pandemik yang saat ini sangat merubah aktivitas keseharian kita. Mungkin juga karena ada beberapa mahasiswa yang kurang informasi jadwal perkuliahan yang kadang tak menentu, tergantung kapan para dosen memiliki waktu luang untuk melaksanakan perkuliahan. Serta tugas-tugas yang malah menambah beban karena dosen yang tak melihat bagaimana kondisi si mahasiswa ini.

Banyaknya keluhan saat pelaksanaan kuliah yang dilakukan secara daring ini, seharusnya bisa memberikan gambaran lapangan bahwa ternyata tak sedikit mahasiswa yang tak menyanggupi kuliah daring ini. Itu terbukti dari banyaknya keluhan yang diutarakan oleh para mahasiswa, perihal tugas, sinyal internet, kuota, informasi jadwal kelas dan sebagainya. Pada akhirnya kita harus dihadapkan dengan kuliah daring yang pada hari ini menjadi topik yang belum kelar untuk dibahas di tataran petinggi kampus dan para petinggi kemendikbud yang juga masih kalang kabut dengan kuliah secara online ini.

Itu terjadi akibat kesenjangan pengelolaan pendidikan di Indonesia yang masih tidak adil. Kenapa? Karena mungkin di tataran pemerintahan saat ini masih ada orang-orang yang mementingkan egoismenya daripada kepentingan umum. Pada kenyataan memang seperti itu, kita tidak bisa tutup mata dan telinga terhadap kejadian ini. Seharusnya ini menjadi cambuk bagi pemerintah yang terutama menaungi pendidikan entah itu dari Kemendikbud atau Kemenag yang masih belum masuk ke seluk beluk daerah terpencil Indonesia yang didalamnya ada seorang pemuda yang sangat ingin mewujudkan dan mengejar mimpinya.

Seperti yang terjadi baru-baru ini dilansir dari halaman Kompas, kisah Pak Avan yang mengajar dari rumah ke rumah karena siswa tak punya ponsel. Pak Avan, dia adalah guru di SD Negeri Batuputih Laok 3, Sumenep, Madura, Jawa Timur. Melalui unggahan di akun Facebooknya, Avan menceritakan pengalamannya tersebut, di mana siswa-siswanya tidak punya sarana untuk belajar di rumah. Mereka tidak mempunyai smartphone, juga tidak punya laptop.

Walaupun misalnya punya, dana untuk membeli kuota internet akan membebani wali murid, tulis Avan. Avan paham betul pandemi ini diminta agar jaga jarak, dan untungnya Kabupaten Sumenep masih zona hijau, beliau jadi yakin bisa memberikan pengajaran dari rumah ke rumah, tentu jarak per-rumah pun jauh, namun Avan percaya memang ini adalah tugasnya sebagai tenaga pengajar.

Ditambah kurangnya subsidi dari kampus atau sekolah dalam menangani kasus pelajar yang tidak bisa akses perkuliahan yang saat ini lebih sering menggunakan ruang virtual seperti Google Meet, Zoom, Google atau Google Classroom yang menjadi favorit para dosen/tenaga pengajar untuk melanjutkan materi pembelajaran di tengah pandemic ini. Itu memang sangat efisien, tetapi kita harus lihat lebih jauh bahwasannya tidak semua pelajar bisa membeli paket internet, ga semua pelajar bisa dapat sinyal bagus untuk mengakses materi pembelajaran dengan baik, ga semua mahasiswa punya kemampuan dalam menggunakan aplikasi itu. Itu seharusnya jadi pembahasan evaluasi pemerintah pusat dalam menghadapi pendidikan Indonesia di tengah Pandemik ini.

Dampak krisis pandemi corona yang dialami sektor pendidikan, bukan berarti pemerintah harus membuat kurikulum darurat corona seperti yang dikehendaki Mendikbud Nadiem Makarim. Ia berpendapat kurikulum sekarang sebenarnya bisa diberdayakan untuk pembelajaran jarak jauh. Namun yang menjadi kendala ada pada kemampuan pemahaman tenaga pendidik dan keterbatasan fasilitas.
Memang, ada beberapa Perguruan Tinggi yang sudah mengeluarkan kebijakan perkuliahan dalam menghadapi pandemik ini. Misalnya, ada kampus yang memberikan subsidi kuota internet gratis kepada seluruh mahasiswanya.

Ada yang memberikan keringan untuk memberikan nilai B kepada seluruh mahasiswa untuk semua mata kuliah selama pademik dan terakhir sempat ada isu yang mengatakan bahwa akan ada pengurangan Uang Kuliah Tunggal (UKT) atau Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) bagi para mahasiswa untuk semester genap karena dampak dari pandemik ini. Tapi pada akhirnya rencana pengurangan itu gagal terealisasikan oleh pemerintah dengan dalih, dana pendidikan akan dipotong demi membantu pemerintah pusat dalam menghadapi Pandemik Covid-19 ini.

Sejak wabah corona merebak, sebagian besar daerah melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dari rumah. Namun implementasinya tak berjalan mulus. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima setidaknya 213 keluhan siswa soal tugas menumpuk selama PJJ. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mendapati 58 persen anak mengaku tidak senang menjalani program Belajar dari Rumah. Sedangkan keterbatasan fasilitas komunikasi menghambat aktivitas mengajar guru. Tak jarang guru mengajar di sekolah yang siswanya tak punya akses teknologi, sehingga komunikasi terputus.

Saat ini kita berharap semua aspek-aspek tersebut harus berkolaborasi menjadi kuda-kuda yang kokoh untuk membangun pendidikan mencetak benih-benih yang unggul untuk masa depan Indonesia yang akan datang. Dari tahun ketahun, ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang dan maju. Negara-negara Berkembang dan Negara-Negara Maju bersaing dalam bidang teknologi Indonesia harus mampu bersaing dengan Negara-Negara yang lain.
Juga seharusnya pemerintah harus menemukan win-win solutions agar pendidikan di Indonesia tetap stabil walau ditengah masa-masa sulit seperti ini. Dengan harapan agar para pemuda pemudi ini bisa mengasah terus keterampilan nya dan bisa menjadi insan akademis yang diharapkan bangsa ini.

Pendidikan itu sangat penting, itulah sebabnya, nasib bangsa ini bisa jadi ditentukan oleh apa yang dilakukan dan didapat para generasi muda yang bakal disiapkan untuk beberapa tahun kedepan “Karena Pendidikan adalah bekal terbaik untuk perjalanan hidup” begitulah perkataan Aristoteles.

Sungguh PR besar yang harus di perbaiki oleh orang tua, guru dan pemerintah jika kualitas pendidikan negara Indonesia tidak ingin tertinggal dengan Negara-Negara yang lainnya. Seperti kata Nelson Mandela bahwa, Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang bisa kamu gunakan untuk mengubah dunia.

*Penulis adalah Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam dan Kader HMI Komfakda

79 Views

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *