UKT Makin Pelik, Rektor Makin Pelit

*Rian Fahardhi

Kurang lebih selama dua bulan lebih usaha jaga jarak (physical distancing) telah diterapkan untuk mencegah penularan Covid-19 di Indonesia, hingga saat ini penyebaran virus masih berusaha dikendalikan oleh pemerintah.

Berbaga cara dilakukan untuk melawan pandemi Covid-19. Mulai dari ajakan untuk stay at home, work from home, social distancing, physical distancing, penerapan PSBB, hingga lockdown lokal oleh masyarakat mewarnai kehidupan negara selama pandemi.

Pandemi akibat Covid-19 membuat kondisi ekonomi setiap elemen masyarakat terguncang karena pengaruhnya yang sangat berdampak terhadap sendi kehidupan masyarakat, ekonomi yang terpuruk membuat pemerintah memutar otak, membuat kebijakan yang sekiranya ideal bag pemulihan ekonomi dan penekanan laju penularan.

Berbeda dengan pemerintah yang mencoba bermacam cara untuk mensejahterakan rakyatnya,kampus yang dikatakan sebagai replika negara malah menutup mata dan telinga dari rakyatnya, kampus yang harusnya hadir mendengarkan teriakan mahasiswa dan memberikan beberapa opsi untuk memudahkan malah mengeluarkan kebijakan yang sama sekali tidak masuk di akal, kenaikan tarif Uang Kuliah Tunggal (UKT) misalnya.

Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melalui Surat Keputusan (SK) Rektor Nomor 222 tahun 2020 menetapkan besaran UKT Tahun ajaran 2020/2021 yang mengalami kenaikan dari tahun ajaran sebelumnya, yang ditetapkan sebelum Covid-19 menjadi pandemi. Melalui SK menteri agama nomor 1195 tahun 2019 tertanggal 27 Desember 2019 yang menjadikan alasan terkuat pihak kampus untuk tidak menurunkan biaya perkuliahan walaupun dengan kondisi ekonomi yang tidak stabil imbas dari pandemi.

Teriakan – teriakan perjuangan mahasiswa melalui daring untuk menurunkan UKT sama sekali tidak ditanggapi oleh pihak rektorat, jangankan penurunan UKT, sejak awal pandemi masuk ke Indonesia tidak ada pemberian subsidi berupa kuota internet untuk mendukung proses perkuliahan yang menjadi tanggung jawab pihak kampus. Rektor benar benar tidak peka.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada Rabu (10/6) pimpinan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mengadakan dialog melalui daring bersama Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema), Senat Mahasiswa (Sema), serta Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang membahas beberapa persoalan, salah satunya masalah UKT.

Hasil pertemuan daring bersama rektor tidak memberikan jawaban dari keresahan setiap mahasiswa, mulai dari kampus tidak akan menurunkan sk kenaikan atau mengembalikkan besaran uang bayaran karena pembahasan kenaikan bayaran berasal dari rasionalitas operasional tiap fakultas dan sudah dibahas sejak tahun lalu.

Jawaban dari rektor benar – benar menunjukkan ia tidak peka sama sekali dengan kondisi mahasiswanya, tidak sedikit mahasiswa yang semenjak pandemi orang tuanya tidak bekerja bahkan di PHK, tidak sedikit juga mahasiswa yang jangankan membeli kuota internet untuk kuliah daring tapi untuk menopang hidup sehari – hari saja kesusahan.

Dari sekian banyak kebijakan yang dikeluarkan, tak pernah sedikitpun meringankan mahasiswa. Belum diketahui atas dasar apa tidak ada perubahan kebijakan di tengah pandemi ini yang jelas – jelas mempengaruhi setiap sendi kehidupan masarakat.

Entah karena kehilangan mata sehingga tidak bisa melihat dengan jelas betapa banyak mahasiswa yang butuh pertolongan melalui kebijakan nya di tengah pandemi ini atau sudah kehilangan telinga sehingga tidak dapat mendengarkan dengan jelas isak tangis keluarga yang di PHK akbat pandemi hingga tak bisa melanjutkan perkuliahan karena besaran biaya perkuliahan, hingga teriakan keras mahasiswa di media sosial juga tak di dengar sama sekali,

Entah dengan cara apa lagi memperjuangkan, jika tulisan juga tidak dibaca.

*Penulis adalah Jurnalis, Mahasiswa UIN Jakarta, HMI Komfakda Cabang Ciputat.

128 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *