Mengintip Skriptorium Minangkabau

Ciputat, ruangonline.com – Manusia sebagai makhluk yang berkebudayaan sejak berabad-abad silam telah menurunkan banyak tradisi yang dapat dilihat melalui peninggalan-peninggalan sejarah. Diantara beberapa peninggalan peninggalan sejarah terdapat candi, prasasti, naskah-naskah kuno dan lain-lain. Naskah-naskah kuno ini merupakan peninggalan yang memuat hasil kebudayaan tulis tangan manusia diatas medium kertas di masa lalu yang terdapat hampir di setiap daerah di nusantara. Naskah-naskah ini merekam setiap aktivitas-aktivitas manusia di masa lalu. Oleh karena itu manuskrip nusantara sangat kaya akan nilai sejarah dan kebudayaan. Perkembangan sejarah berbagai daerah di Nusantara, banyak di pengaruhi oleh kebudayaan manusia yang menghasilkan salah satunya sastra.

Peninggalan-peninggalan kebudayaan merupakan sumber informasi dengan kandungan beragam kebudayaan di berbagai daerah. Maka dari itu untuk mengetahui kandungan dari kebudayaan pada masa lalu diperlukan penelitian. Filologi adalah suatu pengetahuan tentang sastra-sastra dalam arti yang luas yang mencakup bidang kebahasaan, kesastraan, dan kebudayaan. Filologi menekankan pada studi tentang isi naskah dan teks. Sejalan dengan perkembangan filologi, kodikologi juga berperan penting untuk menekankan masalah yang berhubungan dengan aspek fisik seperti nahan tulisan, penjilidan dan iluminasi.

Surau sebagai Skriptorium

Dinamika perjalanan sejarah tulis masyarakat diberbagai daerah di Nusantara terekam jelas pada manuskrip-manuskrip kuno yang sangat banyak. Salah satu daerah dengan manuskrip berlimpah adalah Minangkabau.

Naskah Minangkabau tidak ditulis dengan “aksara Minangkabau” melainkan dengan aksara Jawi, Arab dan latin. Bahkan tidak ada satupun peninggalan dari Minangkabau yang ditulis dengan aksara Minangkabau. Dalam perjalanannya aksara Hindu tidak berpengaruh kuat dalam tradisi tulis masyarakat Minangkabau maka aksara Arab yang berkembang dapat menggeser aksara Hindu. Dalam buku khazanah bahasa, sastra dan budaya serumpun, dijelaskan bahwa kemungkinan pernah adanya “Aksara Minangkabau” tapi hilang seiring dengan pemurnian Islam yang terjadi di Minangkabau. Segala sesuatu yang dipandang tidak Islam akan dihancurkan, termasuk tulisan itu. Tulisan merupakan lambang keikutsertaan dalam suatu peradaban yang terpusat pada suatu ideologi pada masa yang bersangkutan, termasuk di dalamnya suatu agama.

Naskah-naskah itu ditulis dan disalin di surau-surau yang beraliran tarekat tertentu. Tarekat-tarekat tersebut antara lain adalah tarekat Samaniah, Naqsabandiyah dan Syattariyah.

Di surau-suraulah ratusan naskah dapat ditemukan. Pada mulanya surau merupakan tempat pertemuan dan kegiatan kegiatan para pemuda, sampai akhirnya surau melembaga menjadi sarana pendidikan tradisional Minangkabau. Surau telah menjadi pusat pendidikan dengan kegiatan belejar mengajar, belajar agama, dan menjadi target transmisi ajaran islam di Minangkabau.

Surau merupakan skriptorium Minangkabau yang mempunyai peran penting dalam memproduksi naskah-naskah Melayu-Minangkabau. Skriptorium adalah tempat di mana naskah-naskah manuskrip disalin oleh para juru tulis. Dari surau juga dapat dilacak sejarah intelektual keislaman lokal Minangkabau. Surau berperan penting dalam dunia intelektual Islam di Minangkabau dengan kegiatan belajar mengajar oleh para ulama dan pemangku agama lainnya. Seiring dengan persebaran paham keagamaan, kegiatan penulisan dan penyalin naskah tumbuh subur di sana.

Tujuan naskah disalin adalah karena banyak peminat pada naskah tersebut. Penyalin haruslah orang yang mengerti baca tulis agar penyalinan yang berulang-ulang kali dengan penyalin yang berbeda tidak terjadi kesalahan. Maka dari itu, orang-orang dalam surau sudahlah sangat terlatih dan mahir dalam mengolah kata dengan kegiatan penyalinan naskah seperti ini.

Persebaran naskah-naskah di Minangkabau beragam mulai dari surau-surau, rumah gadang-rumah gadang bekas kerajaan-kerajaan Minangkabau, di tangan perorangan, dan di lembaga formal. Persebaran Naskah Koleksi Surau-Surau Tarekat Syattariyah di Sumatera Barat antara lain di Surau Calau dengan 99 naskah yang berlokasi di Jorong Subarang Sukam, Nagari Muaro, Sijunjung; Syekh Abdul Wahab atau Syekh; Surau-surau di Malalo dengan 79 naskah berlokasi di Nagari Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar; dan surau Paseban dengan 22 naskah berlokasi di Di Ikua Koto, Koto Tangah, Padang; Syekh Paseban.

Tempat (lembaga) formal di Sumatera Barat yang memiliki koleksi naskah seperti di Museum Adityawarman Padang, Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau di Padang Panjang, miniatur Rumah Gadang di Kebun Binatang Bukittinggi, Kantor Arsip Kota Padang, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai-nilai Tradisional Padang, Badan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat dan Perpustakaan Fakultas Sastra, Unversitas Andalas Padang.

Generasi Penjaga Manuskrip

Sebagai generasi penerus bangsa yang hidup ditengah-tengah kebudayaan yang dinamis, kita perlu menjaga keutuhan naskah kuno yang bernilai sejara tinggi. Filolog di Indonesia berupaya untuk menjaganya agar tidak hilang, rusak, terbakar, terlantar atau dijual dan kemungkinan buruk lainnya. Salah satu upayanya adalah dengan mengadakan penyalinan naskah. penyalinan naskah ini masuk kedalam kategori pemugaran. Seperti Eratosthenes (the librarian of alexandria library) disebut sebagai filolog pertama karena banyak melakukan pemugaran ke naskah-naskah yang hampir punah.

Zaman digital seperti sekarang ini, kemudahan internet dapat mengantarkan kita untuk menyelamakan dan mendata naskah agar tidak punah/ hilang/ hancur, caranya adalah dengan digitalisasi naslah. Kegiatan ini juga sebahai upaya agar jangkauan naskah bisa diakses hingga internasional.

Naskah yang sudah didigitalkan nanti dapat “diobati” dengan cara ditambal, disambung bagian yang rusak dalam rangka perbaikan. Demikian salah satu pencegahan kerusakan pada manuskrip.

Digitalisasi merupakan proses pendigitalan naskah. Setelah itu akan menghasilkan katalog digital yang merupakan katalog online naskah. Lalu kita dapat mengakses naskah digital berupa foto hasil digitalisasi naskah yang bisa dilihat secara online dari tempat penyimpanannya. (Novia)

Sumber :
1. Baroroh, Siti dan Siti Chamamah Soeratno. 1985. Pengantar teori Filologi. Jakarta : pusat pembinaan dan pengembangan bahasa departemen pendidikan dan kebudayaan.
2. Razak, Ab. 2016. Khazanah bahasa, sastra dan budaya serumpun. Padang : pusat studi dan informasi kebudayaan Minangkabau (PSIKM) Universitas Andalas bekerjasama dengan fakultas Ilmu budaya Universitas Andalas.
3. Pramono. 2018. “potensi naskah-naskah Islam Minangkabau untuk industri kreatif sebagai pendukung wisata religi ziarah di Sumatera Barat”. Jurnal kajian Islam dan budaya. 16(2) : 328-349.

185 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *