Krisis Identitas Mahasiswa Islam

*Rika Salsabila

Dua hari yang lalu, ramai diperbincangkan seorang rektor yang ditangkap akibat kasus pembangunan gedung yang mangkrak. Disaat itu pula, banyak reaksi diberikan oleh para mahasiswa. Mulai dari mahasiswa asal, sampai luar kampusnya, tak terhitung jumlahnya, apalagi setiap kata yang dilontarkan. Media memberitakan kasus memalukan tersebut secara bebarengan, menjadikan headline dalam dua hari belakangan. Tentu, sudah lama kita tak mendengar perguruan tinggi keislaman bermain api dengan anggaran yang diberikan, jelas jadi tujuan hujatan.

Sebenarnya, bukan hanya kasus penangkapan tersebut yang menjadi topik pembicaraan mahasiswa dibawah PTKIN belakangan ini, apalagi dikala kuliah daring yang sering dibilang santai. Tetapi, fenomena terkait kampus yang dinilai tak ‘sahih’ sepertinya kurang disadari oleh para mahasiswa-mahasiswinya itu sendiri. Terpikirkan, apa karena pandemi yang membuat mahasiswa rela akan keadaaan sampai menutup diri dari kenyataan?, padahal kampus sebagai lembaga juga berhak melihat peran mahasiswa sebagai generasi intelek atau cendekiawan yang kritis tak tertahankan. Sayangnya, mahasiswa-mahasiswi Islam khususnya dibawah PTKIN saat ini, cenderung berserah dan hanya bisa mengetik bukan berkutik. Kemana identitas mahasiswa Islam sesungguhnya? Yang katanya sih, jauh lebih peka bahkan sejak momentum Orde Lama. Ingat juga, bagaimana HMI dan gerakan lainnya menghasilkan revolusi di negeri ini. Namun, bagaimana saat ini?.

Nyata di Tengah Mahasiswa Islam

Mahasiswa sekarang dikatakan berbeda dengan mahasiswa dulu, dahulu lebih cepat bertindak dan tak perlu waktu lama berpikir. Kalau sekarang, mungkin iya berpikir, tapi berpikir harus menggunakan cara apa lagi untuk bisa betindak. Seharusnya mahasiswa-mahasiswi dapat mempermudah segala hal termasuk bertindak. Berkehendak karena sesuai dengan apa yang sebenarnya dilihat, didengar dan dirasakan. Contoh kecil saat kisruh kasus uang kuliah tunggal (UKT), secara tidak langsung bukankah mahasiswa itu sendiri yang tahu mana yang hak dan bathil? Jangan lupa, siapapun bisa memobilisasi maupun bermobilisasi atas apa yang dikehendakan. Jargon mahasiswa sebagai agen perubahan sepertinya layak dipertanyakan sekarang, kemana perginya? Saat kisruh UKT tersebut pun, hanya beberapa yang fasih menyampaikan. Walaupun kurang masif yang entah didengarkan atau tidak oleh yang bersangkutan. Identitas mahasiswa Islam yang siap turun ke jalan juga harus terhenti dengan fakta adanya pandemi, tapi bukan berati hilang dan tidak menyatu lagi, kan?

Hal itu merupakan bukti empiris, nyata dan bernilai justifikasi. Mahasiswa Islam sekarang bukan lagi dinilai soal penampilan cekatan, dipanggil abang-abangan dan bisa membuktikan relasinya dengan Al-Quran. Sekarang itu, kontribusi apa yang dapat diberikan kepada sekitar termasuk ke negara. Momentum apa yang dapat menempatkan mahasiswa Islam membuktikan identitasnya?, bukankah kita tidak perlu menunggu momen? karena kita yang seharusnya membuat momen tersebut!

Fakta identitas mahasiswa Islam yang mulai pudar sejak reformasi turut diperkuat dengan pendapat Muhammad Al-Fayyadi. Setelah kejatuhan Orde Baru di tahun 1998, migrasi politik turut serta membawa para aktivis muda termasuk para mahasiswa Islam yang memiliki visi-misi akhlak-karimah, beberapa tokoh justru menjadi kendaraan politik dan bukan menjadi pelurus beloknya politik yang arahnya bersifat tentatif. Mahasiswa Islam saat ini sudah tidak bisa membedakan hal apa saja dan mana yang utama untuk diperjuangkan maupun diluruskan, sekedar hal-hal di dalam kampus pun sepertinya tutup mata, segelintir saja yang perhatian itupun baru sekedar menyampaikan, ibaratnya awal dari namanya perjuangan.

Sebuah Keniscayaan

Sampai kapan kita sebagai mahasiswa Islam mengalami krisis identitas berkepanjangan? Jangan lupakan juga kewajiban kita sebagai mujahid dunia dalam memperoleh pendidikan, serta apa yang diamanatkan oleh para mursyid dan mursyidah. Politik bukan jalan satu-satunya seorang yang konsisten menjadi sorotan masyarakat muslim secara luas, jangan sampai gerakan mahasiswa Islam hanya dianggap sebagai ‘pintu gerbang’ dari dunia politik yang kejam. Kaderisasi yang bersifat formalitas tanpa kualitas, dan tidak adanya gerakan padahal banyak momen yang memang membutuhkan peran atau sosok mahasiswa Islam sesungguhnya. Niscaya, ada perubahan yang terjadi walau bersifat perlahan. Walaupun baru dilakukan di dalam satu lingkaran, komunitas, dan sekelas kampus yang kita ketahui sangat memerlukan perubahan. Tentu, mahasiswa islam sebagai agen yang memiliki identitas konsisten demi Islam yang rahmatan-lil’alamin. Kecenderungan untuk lepas tangan dari kewajiban sebagai muslim yang mukallaf merupakan kesalahan fatal. Ilmu yang dimiliki, indera yang diberikan sepertinya bersifat sia-sia ketika kesalahan dibiarkan dan dihempaskan begitu saja. Kebebasan yang disalahgunakan, politik kampus yang salah arah tujuan, dan bobroknya kelembagaan yang sayangnya belum tertangkap tangan. Maka, mulailah kita untuk menemukan kembali identitas Islam sesungguhnya!.

Kampus merupakan rumah bagi mahasiswa-mahasiswinya. Bukan lagi soal siapa yang menjabat dan beradaptasi dengan dirinya. Tindakan sepihak tanpa melibatkan mahasiswa sebagai unsur yang utama di dunia pendidikan tinggi merupakan tindakan tanpa asasi, ibaratnya tidak direstui. Masalah yang ada memang memiliki tingkatan, tapi salah apabila masalah tersebut justru membuat mahasiswa Islam kehilangan eksistensi dan jati dirinya. Akhirnya krisis, tak mendapat sorotan, dan hanya sekedar berkomentar tanpa adanya perubahan, jangan sampai!.

*Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Jurnalistik dan Kader HMI Komfakda

156 Views

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *