Teruntuk Adik-Adik Mahasiswa Baru

*Dedi Irawan

Selamat datang teman – teman mahasiswa dan mahasiswi. Apa kabar? Saya sangat berharap kabarmu baik – baik saja. Oiya sekedar informasi, kami Sebagian kakak – kakakmu si mahasiswa lama sedang bertahan untuk tetap dapat bayar kuliah, untuk tetap makan, untuk tetap mengikuti kuliah online.

Saya tahu, kondisi saya dan kamu mungkin sedang tidak baik – baik saja. Semoga untuk kamu yang diberi kesempatan untuk kuliah, tetap bersyukur ya. Untuk kamu, yang kuliah sambil bekerja, semangat selalu ya. Untuk kamu pencari beasiswa, belajar yang rajin ya, jangan lupa membantu masyarakat sekitarmu, apapun itu.

Hai, teman – teman sudah menjadi mahasiswa? Salam dari saya, salam satu perjuangan dan kebermanfaatan. Menjunjung tinggi kesetaraan dan kesejahteraan, mengubur dalam – dalam rasa keegoisan dan kegilaan kekuasaan tanpa melihat status pertemanan.

Hidup Mahasiswa, Kalian Akademisi

Hidup mahasiswa?

Pernyataan itu yang sering saya dengan ketika Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK). Yang menjadi misteri nanti kalian mendengarkan itu secara online, langsung atau tidak sama sekali. Terlepas dari masalah teknis, mudah – mudahan itu terdengar nyata, bukan hanya suara yang menggema, bahkan sampai terlihat otot – otot di leher. Semoga nyata dalam tugasnya sebagai akademisi.

Sadar atau tidak, sekarang teman – teman sudah menjadi akademisi. Menurut Oxford English Dictionary (edisi ke-3rd), Kata itu berasal dari Akademi di Yunani kuno, yang berasal dari pahlawan Athena, Akademos. Di luar tembok kota Athena, ruangan itu dibuat terkenal oleh Plato sebagai pusat pembelajaran. Ruang suci, yang didedikasikan untuk dewi kebijaksanaan, Athena, dulunya adalah kebun zaitun, oleh karena itu ungkapan “kebun Academe“. Sedangkan dalam KBBI, akademisi berarti orang yang berpendidikan tinggi untuk artian yang pertama.

Saya sebut saja tembok kota Antena tersebut sebagai Gunung Akademos. Tempat berkumpulnya para filsuf Yunani. Di atasnya, mereka membicarakan permasalahan negara, dan tidak lama setelah perkumpulan itu berjalan mereka dibubarkan oleh para penguasa, karena mereka mengadakan sebuah pertemuan yang membahas negara diluar bahasan negara, diluar struktur kenegaraan dan mereka dianggap menjadi ancaman. Dan merekalah yang disebut pertama kali sebagai akademisi.

Akademisi bisa juga disebut intelektual. Artinya seorang akademisi dituntut selalu menjunjung tinggi nilai kecerdasan intelektual yang dibangun melalui konstruksi pemikiran ilmiah yang, naturally, menjunjung tinggi kondisi obyektivitas dan netralitas.

Oleh karena itu, seorang akademisi harus menjunjung tinggi kejujuran, dilarang dan pantang berbohong dalam menyampaikan suatu keterangan. Jadi, semua yang diucapkan mesti berdasarkan pada apa yang dinamakan kejujuran dan kebenaran akademik yang obyektif dan ilmiah, tanpa rekayasa tentunya apalagi tanpa dasar yang jelas.

Dalam dunia akademik tidak mengenal kalah atau menang, tetapi semua harus diuji secara rasional obyektif berdasarkan data dan fakta yang telah diuji dan diverifikasi secara ilmiah. Seorang akademisi dalam menyampaikan sesuatu harus berdasarkan suatu kenyataan yang tidak berdasarkan kepentingan tertentu, melainkan demi kepentingan ilmu pengetahuan dan kebenaran ilmiah yang memiliki kaidah – kaidah tertentu yang tidak boleh diabaikan.

Pengabaian kaidah – kaidah demi kepentingan di luar pencarian kebenaran ilmiah dan obyektif, berarti sang akademisi bersangkutan telah melakukan apa yang dinamakan, pelacuran intelektual. Tentunya tak elok.

Yang terpenting dalam dunia kampus, yaitu menjaga netralitas kita sebagai orang akademisi. Saling menuduh dan mengklaim tanpa adanya ruang diskusi bersama, menyebabkan terjadi konflik berkepanjangan. Tidak ada kejelasan dari pihak yang menyalahkan dan terlalu besar tuntutan dari pengguggat, salah satu faktor penyebab perang dingin di sosial media.

Kritik Terhadap Senior dan Tujuan Kuliah

Pertanyaan mendasar; apakah yang katanya senior, sudah mencerminkan dirinya sebagai seorang akademisi ketika menyambut mahasiswa baru? Atau malah hanya unjuk kejantanan otot, unjuk warna gigi, yang mungkin sudah menjadi hal yang membudaya dalam beberapa kampus. Padahal yang perlu ditekankan pada mahasiswa baru yaitu, mengenai tingkatan kualitas sebagai mahasiswa, bukan lagi sebagai siswa.

Mayoritas mahasiswa baru dari namanya saja “baru” sudah pasti minim akan pengetahuan dunia kampus. Atau justru malah kosong pengetahuan mengenai keorganisasian dan sebagainya.

Kepada yang terhormat senior yang mempunyai wewenang, jika ada juniormu yang bertanya mengenai organisasi intra maupun ekstra, tolong jawab secara obyektif, sesuai fakta dan tidak memihak. Bukan malah, hanya membanggakan satu organisasi saja atau menjelekan satu organisasi saja, tetapi coba secara universal. Mendingan buka pikiran mahasiswa baru dalam merencanakan pengembangan diri seperti tujuan berkuliah.

Teman – teman mahasiswa baru, apa tujuan kamu berkuliah dan mengapa kuliah?.

Apa hanya untuk menaikkan keangkuhan kalian karena dapat berkuliah? Apa hanya untuk mencari relasi? Apa hanya untuk menuntut ilmu walaupun ilmu itu tidak bersalah? Apa hanya untuk memasuki organisasi tertentu? Apa hanya untuk membuat bahagia orang tua? Apa hanya untuk mendapat gelar sarjana?

Teman – teman, sebelum terlambat, cari tahu tujuan kamu untuk apa kuliah. Karena suatu saat, kita akan terlalu sibuk mengejar gelar, namun kita lupa, untuk siapa gelar itu kita perjuangan.

Almamater

Untuk teman – teman, yang sekarang di dadanya sudah tersemat almamater universitas, kewajiban kita menjawab seruan akademisi, yang merupakan tugas kita turun menurun, sejak pertama kata akademisi dicetuskan di dunia ini, menjadi mitra kritik pemerintah yang menjalankan ketidakadilan di pemerintah ataupun di kampus.

Teman – teman boleh memiliki minat apapun, boleh memiliki kesukaan apapun. Yang kemudian tidak suka dengan kegiatan sosial politik kampus atau sejenisnya. Maka gunakanlah kesukaan teman – teman misalnya dibidang keilmiahan, kesenian dan olahraga.

Tapi ingat, kita semua adalah pejuang – pejuang Indonesia, yang tidak boleh meremehkan satu dengan yang lainnya. Saya tidak ingin terciptanya konflik horizontal, saya tidak ingin kalian diadu domba, satu menyalahkan yang lainnya, satu memburuk keadaan yang lainnya, satu menyingkirkan yang lainnya. Kita semua berjuang dengan jalan kita masing – masing.

Tapi ingat satu, kita adalah insan muda Indonesia yang harus selalu menyuarakan kebenaran, apapun resikonya, betapapun tanggung jawabnya, betapapun besar dampak yang akan kita terima setelahnya.

*Penulis adalah Mahasiswa Studi Agama-Agama dan Kader HMI Komfuf

255 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *