Klasifikasi Golongan Pertemanan Untuk Menikmati Hidup

*Aulia Ulhaq

Saya sudah hidup selama 21 tahun, dan baru saja saya menginjak kepala dua lebih satu September tahun ini.

Selama 21 tahun bernafas saya sudah banyak bertemu beberapa orang, entah karena urusan sekolah, kuliah, pekerjaan atau yang lainnya. Menurut orang-orang yang pernah saya temui, saya adalah orang yang judes namun saat mengenal lebih jauh saya orang yang gampang berjalan atau dalam bahasa Inggris “easy going“.

Ada yang langsung menjadikan saya kawan cerita karena katanya saya bisa memahami apa yang mereka ceritakan. Ada juga yang berniat menjadikan saya sahabat karena menurutnya saya satu frekuensi dan nyambung saat diajak ngobrol.

Padahal sebetulnya saya tidak peduli dengan urusan-urusan mereka. Mungkin mereka menganggap saya peduli, padahal saya hanya memberikan saran yang mungkin akan menenangkan hati mereka.

Saat awal-awal kuliah saya juga mempunyai pikiran seperti itu, saya mudah mempercayai orang dan pada akhirnya saya kehilangan orang tersebut. Karena saya adalah orang yang belajar dari kesalahan saya mengklasifikasikan orang-orang yang saya temui menjadi tiga golongan, yaitu;

1. Kenalan (orang-orang yang saya kenal karena suatu moment kurang dari setahun). Biasanya saya tidak peduli dengan kehidupan kenalan saya, karena saya belum tahu sifatnya saya khawatir suatu saat saya atau dia akan dikecewakan. Kebaikan saya pun dibatasi, tidak peduli dia sudah makan atau tidak punya rokok.

2. Teman (orang yang saya kenal dan sudah kenal saya lebih dari setahun). Baik dia atau saya sama-sama sudah mengetahui karakter masing-masing, dia memaklumi saya dengan sifat saya dan saya memaklumi dia dengan sifatnya. Tidak ada amarah dengan kepribadian masing-masing tapi kami hanya sebatas teman yang kepedulianya terbatas dan tidak mempunyai pengorbanan.

3. Teman dekat (orang-orang yang saya kenal, tempat saya berkeluh kesah selama lebih dari tiga tahun). Selama kuliah teman saya banyak tapi teman dekat saya hanya dua orang, walaupun saya dikenal berteman dengan siapapun. Sama halnya ketika saya bersekolah, teman dekat saya tidak lebih dari tiga orang. Tapi mereka adalah orang-orang yang paham betul sifat saya begitupun sebaliknya. Orang-orang ini rela menemani saya ketika saya sedang susah, dan saya pun sangat peduli pada kehidupan Mereka.

Setelah saya mengklasifikasikan golongan pertemanan saya, saya mendapat kenikmatan berupa rasa lapang dada ketika saya dikecewakan oleh orang yang bertemu dan mempunyai urusan dengan saya. Saya juga menjadi pribadi yang apa adanya, tanpa harus ikut-ikutan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Tapi kalau lingkungannya baik sepertinya tidak apa-apa.

Karena dalam hidup yang dibutuhkan adalah ketenangan hati. Salah satunya dengan cara memilih orang-orang yang mendengar ceritamu, keluh kesahmu dan memahami dirimu apa adanya.

*Penulis adalah Kader HMI Kafeis dan Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Syariah UIN Jakarta

65 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *