Menjadi Perempuan yang Berperan

*Renada Zulfa Aulia

Ciputat, ruangonline.com – Perempuan di Indonesia telah memegang peranan penting sejak dahulu. Bukan hanya di keluarga, Perempuan Indonesia telah berperan aktif dalam masyarakat sejak lama. Bahkan, sejarah perjuangan Indonesia pun banyak mencatat para perempuan yang berjuang demi nama Indonesia.

Sebut saja Cut Nyak Dien yang mampu menggantikan peranan suaminya sebagai pemimpin perjuangan rakyat Aceh melawan penjajah, R.A Kartini yang melalui tulisannya mencoba mengangkat hak-hak sosial perempuan dalam masyarakat menuju status yang lebih baik, Dewi Sartika yang memajukan pendidikan bagi sesama perempuan. Mereka telah menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi sejarah negeri ini. Mereka menunjukan kepada kita semua bahwasanya perempuan memiliki kekuatan dan kemampuan yang hebat dan punya kontribusi besar bagi Indonesia.

Perjuangan perempuan di Indonesia mencerminkan bahwasanya bagi perempuan bukan lah suatu hal yang baru memperjuangkan semangat keperempuanan. Di Indonesia pun, tidak ada peraturan hukum yang membatasi hak perempuan dalam berperan di pemerintahan maupun politik. Undang-undang pemilihan hukum bahkan mensyaratkan partai politik 30% calon legislatif perempuan dalam pemilu. Hal ini menunjukkan sebuah bentuk keberhasilan parlemen Indonesia dalam memberdayakan perempuan untuk berperan.

Peran perempuan dalam kehidupan pemerintahan maupun kemasyarakatan seharusnya masih dapat ditingkatkan. Dukungan negara secara nyata terhadap peningkatan peran perempuan masih sangat diperlukan. Walau sudah banyak kemajuan yang diadakan oleh perempuan di Indoensia saat ini, namun tidak bisa dipungkiri masih terjadi persoalan dimana perempuan menjadi pihak yang paling dirugikan.

Misalnya dalam kasus perdagangan manusia angka kematian ibu melahirkan, kekurangan gizi pada anak, kasus kekerasan dalam rumah tangga, rendah nya akses perempuan dalam politik dan ekonomi serta bidang lainnya. Karena itu, sangat penting bagi perempuan berperan dalam segala aspek kehidupan, agar dapat memperjuangkan nilai perempuan dan masyarakat pada umumnya.

Oleh karena itu perempuan kini di tuntut untuk berperan bukan baperan, percaya diri bukan gengsi, berpotensi bukan hanya mempercantik diri, pandai kritis bukan menangis. Seorang perempuan yang hanya mengandalkan wajah yang cantik pun belum cukup untuk menjadi public figure, namun jika mampu berperan dengan baik dalam posisi apapun, hal-hal cantik dan baik akan mengikutinya tanpa diminta.

*Penulis adalah Mahasiswa Dirosat Islamiyah UIN Jakarta dan Penggiat Diskusi

693 Views

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *