Agama Simbol Perdamaian, Bukan Perang

 

*Irhas Abdul Hadi

Ciputat, ruangonline.com – Setiap manusia pasti memiliki sebuah kepercayaan, baik kepercayaan terhadap diri sendiri hingga kepada hal spiritual yang dalam hal ini bisa kita temui dalam agama. Agama hadir memiliki banyak tujuan seperti, penerangan di dalam kehidupan kita, jika dirasa ada kekosongan hati atau kekosongan dalam menerapkan sebuah tujuan, agama membuat narasi untuk menjadi pengharapan sehingga kita bisa memiliki pedoman hidup. Tentu sudah jelas bahwa agama manapun selalu mengajarkan kepada kebaikan. Apabila ada suatu agama yang mengajarkan untuk membenci, memaki, menyakiti justru harus dipertanyakan keotentikannya atau bisa jadi apa yang diajarkan dalam teks kitab sucinya memiliki konteks yang berbeda. maka, dalam hal ini perlu dipelajari lebih lanjut tentang pemahaman agamanya, setidaknya memudahkan kita dalam beragama, untuk selalu melakukan perbuatan baik dan tidak menyakiti sesama.

Fenomena yang terjadi di belahan dunia manapun selalu saja terjadi konflik yang berkaitan dengan agama seperti rasisme, intoleransi, radikalisme, sampai perbuatan ekstrimisme yang melakukan tindakan tidak manusiawi sampai pada menyakiti secara emosionalnya sampai pada fisiknya. Hal ini menjadi momok yang sangat meresahkan dan menakutkan karena banyak tindakan-tindakan yang banyak merugikan orang lain. ke-akuan atau keegoisan dari setiap kelompok sehingga merasa paling benar dan menyalahkan orang lain sampai pada akhirnya melupakan orientasi penting dalam beragama, yaitu melakukan hal baik juga menebar kebermanfaatan. Tetapi, sebaliknya agama justru jadi ikon yang menarik dalam bahasan ekstrimisme dan rasisme dimana kegiatan-kegiatan yang merenggut nyawa orang lain demi dogma seorang oknum yang tidak jelas kebenarannya bahwa itu adalah salah satu ajaran yang perlu ditegakkan.

Kelemahan manusia dalam berpikir menjadi target utama bagai para oknum yang memiliki tujuan lain. sehingga, ada yang sampai berani untuk melakukan aksi teror dalam bentuk apapun sampai pada bom bunuh diri. Seharusnya manusia dan masyarakat luas cukup ikuti ajaran yang memberikan dampak positif bagi diri sendiri dan kegiatan yang memang sesuai ajaran masing-masing selama tidak mengusik orang disekitar kita. Mudahnya cukup lakukan hal baik juga bermanfaat dan jangan sampai melukai sesama manusia, dimana mereka juga satu bentuk, wujud, dan jenis dengan kita.

Ajaran-ajaran beberapa agama selalu merujuk kepada kerukunan, perdamaian, penghormatan dan kebaikan maka sangat aneh jika orang yang beragama justru merusak. Seperti Islam dalam ajarannya “Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin.”, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) dan memperkenankan (doa hamba-Nya).” kita bisa menangkap bahwa ajaran Islam memiliki nilai tentang perdamaian bagaimana kita menjaga alam, hewan sampai dengan manusia untuk hidup rukun berdampingan.

Budha yang menurut pendita dari Buddha Dharma, perdamaian itu bisa dimulai dari kerukunan antar umat beragama, lalu bisa dikaitkan dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika yang terdiri dari berbagai macam suku, budaya, agama meskipun berbeda tapi kita tetap satu yaitu keluarga besar bangsa Indonesia. Dalam ajaran Kristen pun memiliki ajaran tentang hal yang serupa seperti Mazmur 37: 37: “Tandai manusia yang sempurna, dan lihatlah yang lurus: karena akhir dari manusia itu adalah kedamaian.”, “Mazmur 29:11: Tuhan akan memberi kekuatan kepada umat-Nya; Tuhan akan memberkati umat-Nya dengan damai.” Jelas sekali kristiani dalam ajarannya memerintahkan untuk mengajak pada kebaikan dan perdamaian.

Agama memberikan jawaban-jawaban yang dapat menjadi sebuah solusi dikala kita berada dalam kebuntuan dalam berpikir. Ketika ada titik temu korelasi antar agama untuk sama-sama menjaga perdamaian, kerukunan, dan kebaikan maka seharusnya jiwa toleransi akan tercipta, akan terbentuk sebuah tatanan saling menghargai dalam menentukan pilihan, baik dalam hal agama sampai pada kebijakan. Kedamaian akan tercipta dengan landasan jiwa toleransi, sangat jelas bahwa hal yang kontradiksi jika ada agama yang memiliki ajaran untuk menyakiti orang lain, padahal setiap agama mengajarkan kepada kebaikan. Maka sederhanakan pikiran untuk selalu melakukan kebaikan dan kebermanfaatan terkhusus bagi yang beragama. sudah bisa dipastikan seharusnya agama menjadi simbol perdamaian.

*Penulis adalah kader komfakdisa

251 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *