Kenaikan Upah, bukan Satu-satunya Harapan Buruh

Oleh : Amin

Ciputat, ruangonline.com – Seringkali Kaum Buruh menjadi topik pembahasan di berbagai kalangan, baik dari kalangan pemuda hingga orang tua. Siapa kaum buruh ini? Sehingga menjadi topik pembicaraan, dan apa yang terjadi pada Kaum Buruh? Jika hanya sekedar nama bagi kelompok, tidak mungkin menjadi pembahasan yang serius. Bahkan dari hasil obrolan tentang kaum buruh, menimbulkan gerakan. Oleh karena itu pembahasan ini dipandang menarik oleh penulis.

Pengertian buruh dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah. Di lain sisi konsep buruh atau pekerja terdapat perbedaan pendapat antara Hegelian dan Marxian.

Hegelian beranggapan bahwa buruh berkaitan dengan kerja-kerja inmaterial atau rohani yang berada dalam kegiaatan konsep, manusia juga bekerja atas pemikirannya sendiri. Ketika Hegelian beranggapan bahwa manusia bekerja dari hasil pemikirannya. Karena, konsep G.W.F Hegel, Filosof Jerman, memiliki dasar pemikiran tentang dialektika roh. yang mana, kesadaran manusia merupakan hasil dialektika antara roh.

Berbeda denga konsep Buruh Karl Marx, yang berpendapat bahwa buruh atau pekerja berkaitan dengan kerja-kerja material, tidak lagi bekerja karena imaginasi sendiri, melainkan di bawah kendali dominasi pemilik alat produksi. Marx beranggapan demikian dengan dasar pemikiran Dialektika Historis. Di mana, perkembangan masyarakat disebabkan ditentukan oleh sejarah perkembangan alat produksi.

Di dalam buku Franz Magnis Suseno yang berjudul “Pemikiran Karl Marx dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme”, menjelaskan bahwa di dalam masyarakat terdapat kelas sosial. Oleh karena itu, salah satu dari kelas sosial ada yang mendominasi. Juga, dalam teori kelasnya, Marx membagi kelas sosial menjadi dua, yaitu kelas atas dan kelas bawah.

Kelas atas adalah kelas yang memiliki alat produksi atau modal. Kelas ini lah yang mendominasi bagi kelas bawah (kelas buruh atau proletar). Maka, kaum pekerja tidak lagi bekerja atas kekreatifannya sendiri, melainkan atas tuntutan dari kaum yang mendominasi.

Pembahasan tentang kaum buruh selalu disandingkan dengan upah atau gaji. Karena, ketika kaum buruh melakukan aksi demonstrasi, mogokerja, dan aksi-aksi lainya, anggapan pertama yang dimiliki masyarakat umum adalah menuntut tentang kenaikan upah. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa tuntutan yang dikemukakan oleh kaum buruh tidak hanya kenaikan upah dan pemotongan jam kerja. Tuntutan itu terjadi di awal perjalanan perjuangan kaum buruh.

Gerakan tersetruktur yang dilakukan oleh kaum buruh digerakkan oleh Lenin dengan membentuk Sarekat Buruh. Dia termotivasi dari pemikiran Marx yang bertujuan untuk menekankan bangkitnya kesadaran kelas kaum buruh. Tetapi, Lenin berpendapat, suksesnya kaum buruh melawan kapitalis jika membentuk organisasi buruh dan melakukan kerjasama dengan revolusioner profesional, dalam artian tidak cukup hanya muncul kesadaran sebagaimana yang dilakukan Marx. Isu yang dikembangkan ialah kenaikan upah, perjuangan kelas, anti ekspolitasi, anti kapitalisme dan revolusi proletariat (kaum pekerja).

Gerakan kaum buruh sempat mengalami kemunduran pada abad 20. Tapi, gerakan kaum buruh mulai bangkit lagi setelah terjadi perdebatan di dalam pemikir Marxis yang melahirkan istilah gerakan Kiri Baru atau the new live yang diperkenalkan oleh sosiolog Amerika, C. Wright Mills tahun 1958, dipaparkan dalam majalah The New Left Review (1959) yang dikelola oleh Post Marxist.

Kiri Baru beranggapan, Kiri Lama gagal menjelaskan terjadinya imperialisme sekaligus gagal menjelaskan terjadinya perkembangan masyarakat kapitalis yang mengalami perubahan sangat cepat. Oleh karena itu, Kiri Baru mempembaharui gerakan gerakan buruh dan juga mengembangkan tuntutan yang diusung oleh Kiri Lama.

Baca juga : Menjadi Perempuan yang Berperan

Dari perdebatan keduanya sedikit menggeser arah ideologis dan pergerakannya. Di mana, gerakan pertama yang dilakukan hanya dalam Isu kenaikan upah, perjuangan kelas, anti ekspolitasi, anti kapitalisme dan revolusi

proletariat berkembang terhadap isu kondisi struktur masyarakat, mulai dari budaya, perkembangan nilai-nilai, dan pemerintahan. Selain itu, juga mengangkat isu kewarganegaraan dengan menuntut terkait hak-hak buruh dalam suatu negara.

Dari perkembangan isu yang dilakukan oleh Marxist Baru tersebut, berpengaruh juga terhadap gerakan yang dilakukan oleh kaum buruh dikarenakan mereka termasuk dalam kategori penggerak kaum buruh, baik dari segi pemikiran maupun dari segi gerakan. Tuntutan yang terus dikembangkan, bercabang ke gender. Dikarenakan para pemikir juga memikirkan nasib buruh pererempuan, maka terciptalah isu gender yang dikembangkan dalam tuntutan kaum buruh.

Isu gender yang dibangun menuntut hak cuti bagi buruh perempuan yang sedang hamil, melahirkan, dan merawat bayi yang baru dilahirkan. Oleh karena itu, tuntutan yang dilakukan oleh buruh tidak hanya berkutat dalam kenaikan upah, melainkan dari beberapa sektor juga mendapat perhatian dari gerakan buruh. Seperti halnya hak asisasi manusia, kesehatan tenaga kerja, pesangon, pola ekonomi, dan gender.

Perjalanan kaum buruh cukup komplek, dari menirima siksaan, ancaman, dan tuduhan. Di Indonesia nama kaum buruh yang cukup fenomenal ialah Marsinah. Dia merupakan buruh PT Catur Putera Surya (CPS), pabrik arloji di Siring, Porong, Jawa Timur, sekaligus aktivis buruh terpelajar. Dia dibunuh saat terjadi aksi mogo kerja yang dilakukan oleh buruh PT CSP. Diketahui bahwa dia dibunuh secara tragis.

Secara singkat, sebelum kematiannya, marsinah mengambil alih Yudo Prakoso sebagai Kordinator aksi, karena dia telah ditangkap oleh pihak kepolisian. Emosi Marsinah memuncak ketika mendengar 12 rekannya diminta untuk mundur dari pekerjaannya oleh pihak kepolisian (Kodim Sidoarjo). Dia meminta salinan surat pengunduran diri dan surat perjanjian dengan PT CPS.

Marsinah akan meminta bantuan saudaranya yang menjabat sebagai jaksa di Surabaya. Setelah kejadian itu, rekan kerjanya tidak lagi melihat Marsinah. Karena setelah melakukan tindakan tersebut, selang beberapa hari dari kejadian itu, 8 Mei 1993, Marsinah telah meninggalkan rekannya untuk selamanya (meninggal dunia), dengan luka dibagian kemaluannya hingga beberapa tulang selangkangannya patah dan juga dia mengalami pendarahan.

*Penulis adalah kader Lapmi HMI Cabang Ciputat

237 Views

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *